SULAWESI BARAT — Polestar memastikan diri tidak akan lagi menjual kendaraan di Amerika Serikat menyusul kebijakan baru Connected Vehicle Rule yang melarang produk dengan teknologi koneksi dari China atau Rusia. Keputusan ini diumumkan setelah pabrikan Swedia yang berada di bawah naungan Geely itu melakukan diskusi panjang dengan otoritas AS. Juru bicara Polestar, Michael Ofiara, mengatakan kepada Wall Street Journal bahwa perusahaan akan fokus pada pasar dengan posisi merek yang kuat dan potensi pertumbuhan menguntungkan, terutama Eropa.
"Kami akan mengalihkan investasi ke pasar di mana kami memiliki posisi merek yang kuat dan kemampuan untuk mencapai pertumbuhan yang menguntungkan, dengan bobot yang besar ke Eropa," ujar Ofiara. Meskipun ada jalur banding yang tersedia, Polestar menilai peluang keberhasilannya tipis setelah melalui "dialog signifikan" dengan pihak berwenang AS. Opsi litigasi di pengadilan pun diabaikan.
Connected Vehicle Rule tidak hanya menyasar Polestar. Merek lain seperti Lotus dan bahkan Mercedes-Benz berpotensi terkena dampak larangan serupa karena keterkaitan teknologi dengan China. Namun, satu pabrikan yang juga dimiliki Geely, Volvo, berhasil mendapatkan pengecualian pada Mei lalu setelah menyerahkan rincian tata kelola, teknologi, dan keamanan data ke Office of Information and Communications Technology and Services di bawah Departemen Perdagangan AS.
Regulator federal menekankan bahwa pengecualian diberikan secara kasus per kasus. Kekhawatiran keamanan nasional menjadi alasan utama di balik pembatasan ini, khususnya di bawah pemerintahan Biden dan Trump. Kedua administrasi khawatir kamera dan teknologi satelit bawaan kendaraan buatan China dapat dieksploitasi oleh lawan asing.
Kepergian mendadak Polestar dari AS memicu ketegangan dengan 32 diler resminya. Beberapa negara bagian mewajibkan pabrikan memberikan kompensasi kepada diler saat hengkang dari pasar, selama perusahaan tidak dalam kondisi bangkrut. Menurut laporan Wall Street Journal, Polestar bisa bertanggung jawab membeli kembali mobil yang belum terjual atau membayar nilai pasar wajar waralaba.
Polestar menyatakan tidak akan memutus kontrak diler dan tengah bekerja untuk "mengelola transisi ini". Sebelumnya, hubungan bisnis Polestar dengan AS sudah memburuk setelah model Polestar 2 dihentikan tahun lalu akibat tarif 100 persen untuk mobil rakitan China.
Alasan spesifik mengapa Polestar dilarang berjualan di AS belum diungkap secara resmi oleh Departemen Perdagangan. Keputusan ini menandai babak baru bagi pabrikan Swedia yang harus merelakan salah satu pasar otomotif terbesar dunia demi kepatuhan regulasi keamanan teknologi.