POLEWALI MANDAR — Sebanyak 20 ekor tukik dan puluhan bibit mangrove dilepasliarkan di pesisir Pantai Mampie, menandai dimulainya rangkaian Festival Penyu Mampie 2026. Acara yang berlangsung hingga 28 Juni ini tidak sekadar perayaan tahunan, melainkan menjadi momentum untuk menggerakkan kesadaran ekologis masyarakat.
Bau Akram Dai, mewakili Gubernur Sulawesi Barat, secara resmi membuka festival yang digagas oleh Komunitas Sahabat Penyu Mampie. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada komunitas, Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar, dan Kementerian Pariwisata RI yang mendukung melalui Dana Tugas Pembantuan Tahun Anggaran 2026.
Bau Akram menegaskan bahwa konsep pariwisata berkelanjutan kini menjadi paradigma utama. Ia menyebut bahwa pariwisata dan pelestarian lingkungan adalah dua kutub yang saling menguatkan, bukan lagi berjalan sendiri-sendiri.
"Pariwisata dan pelestarian lingkungan kini tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, melainkan menjadi dua kutub yang saling menguatkan dalam paradigma sustainable tourism atau pariwisata berkelanjutan demi menjaga keseimbangan ekologis sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal," kata Bau Akram dalam sambutannya.
Kepala Dispoparekraf Sulbar berharap festival ini tidak berhenti sebagai agenda seremonial tahunan. Ia mendorong agar kegiatan ini bertransformasi menjadi gerakan kolektif yang berkelanjutan, sehingga mampu memperkuat budaya konservasi di masyarakat.
"Festival Penyu Mampie tidak boleh dimaknai hanya sebagai agenda seremonial tahunan, tetapi harus ditransformasikan menjadi sebuah gerakan kolektif yang berkelanjutan," ujar Bau Akram.
Rangkaian acara tidak hanya berfokus pada pelepasan tukik dan penanaman mangrove. Panitia juga menyiapkan berbagai kegiatan edukasi dan hiburan untuk pengunjung. Aksi bersih pantai, susur Sungai Teluk Mampie, dan pameran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) turut memeriahkan festival.
Setelah acara seremonial, Bau Akram Dai bersama seluruh pengunjung langsung turun ke pantai untuk melepasliarkan tukik dan menanam pohon mangrove. Aktivitas ini menjadi simbol nyata komitmen pelestarian ekosistem pesisir di Sulawesi Barat.