SULAWESI BARAT — Penjualan mobil nasional kembali menunjukkan tren negatif setelah sempat pulih di bulan April. Data Gaikindo per Mei 2026 mengonfirmasi adanya koreksi baik di level grosir maupun eceran.
Penjualan wholesales—yang mencerminkan pengiriman unit ke diler—terkoreksi dalam sebulan terakhir. Capaian 69.219 unit pada Mei 2026 turun signifikan dari 80.779 unit pada April 2026. Sementara itu, penjualan ritel atau dari diler ke konsumen juga ikut tertekan minus 5,1 persen menjadi 71.890 unit.
Ketua I Gaikindo, Jongkie Sugiarto, menjelaskan bahwa faktor utama yang membayangi pasar adalah ketidakpastian regulasi. "Iya kan soal insentif yang ditunda, melemahnya rupiah, dan lain-lain," ujarnya kepada detikoto.
Penundaan insentif untuk mobil listrik membuat calon pembeli memilih sikap wait and see. Banyak konsumen menunda transaksi karena berharap mendapatkan harga lebih miring jika insentif resmi berlaku. Menteri Keuangan Purbaya sebelumnya menyatakan insentif EV yang sedianya berlaku Juni 2026 ditunda. "Insentif EV masih ditunda satu bulan lagi," katanya pada Selasa (26/5).
Meskipun performa bulanan jeblok, data akumulasi Januari–Mei 2026 masih menunjukkan pertumbuhan. Total penjualan ritel mencapai 359.490 unit, naik 8,8 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Adapun penjualan wholesales kumulatif melesat 12,8 persen ke angka 359.015 unit.
Angka kumulatif ini memberi sedikit ruang optimisme bagi industri. Namun, Gaikindo menekankan bahwa kelanjutan pertumbuhan di semester II sangat bergantung pada kepastian kebijakan insentif kendaraan listrik. Jika regulasi terus tertunda, tekanan pada daya beli dan volume penjualan diprediksi berlanjut.
Fluktuasi nilai tukar rupiah yang masih tinggi juga menjadi beban tambahan. Jongkie mengindikasikan bahwa kombinasi faktor ini membuat pasar otomotif roda empat Indonesia belum sepenuhnya pulih dari tekanan makroekonomi.