MAMUJU — Ironi mencolok terjadi di perairan Sulawesi Barat. Di satu sisi, Kepulauan Balabalakang resmi dilindungi melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 47 Tahun 2022. Di sisi lain, hasil penyelaman Mamuju Ocean Conservation pada Juli 2024 menemukan kehancuran bawah laut: terumbu karang patah dan mati.
Ancaman terhadap ekosistem laut kini datang dari dua arah. Dari laut, praktik penangkapan ikan destruktif terus berlangsung. Dari darat, ambisi pertambangan Logam Tanah Jarang (LTJ) yang disebut sebagai "harta karun nasional" mulai bergerak serius, dengan target nilai hilirisasi mencapai Rp 124,61 triliun pada 2030.
Hasil survei lapangan tim peneliti Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Universitas Hasanuddin pada Mei 2022 di Pulau Salissingan, Kepulauan Balabalakang, merekam situasi yang gamblang. Saat tim melakukan penyelaman untuk replantasi terumbu karang, ledakan bom ikan terjadi berturut-turut di lokasi yang sama.
Penelitian itu mengidentifikasi tiga kelompok pelaku dengan metode berbeda. Nelayan dari Kalimantan (Balikpapan) dan Sulawesi Selatan (Pangkep/Makassar) melakukan pengeboman ikan. Nelayan lokal Pulau Balabalakang menggunakan potassium cyanide untuk menangkap ikan kerapu. Sementara trawl ilegal dioperasikan oleh nelayan dari Jawa Timur (Madura) hampir 24 jam, menangkap segala jenis ikan termasuk benih.
Pemerintah Desa Balabalakang telah menerbitkan Peraturan Desa (Perdes) No. 05 Tahun 2020 tentang Pembatasan Penangkapan Hasil Laut. Aturan ini melarang nelayan luar provinsi berlabuh dan bermalam di gusung, mewajibkan pelaporan, serta mengancam penyitaan hasil tangkapan bagi pelanggar.
Namun, Perdes tanpa patroli rutin hanyalah kertas. Jarak Kepulauan Balabalakang yang mencapai 130 mil laut dari Mamuju membuat anggaran patroli menjadi beban berat bagi DKP Sulbar. Pada April 2025, Polairud Polda Sulbar menangkap dua tersangka destructive fishing di perairan Kabarang, Mamuju, menandakan masih lemahnya pengawasan.
Sebagian nelayan lokal dari Dusun Ilir Salissingan diketahui ikut membantu nelayan destruktif dari luar. Ironisnya, mereka mengakui dalam wawancara bahwa pengeboman menyebabkan tangkapan mereka berkurang setiap tahun karena ikan kehilangan habitatnya. Mereka melakukannya karena terdesak ekonomi dan tidak ada alternatif penghidupan yang memadai.
Sulawesi Barat memiliki wilayah laut lebih luas dari daratan: 19.848,56 km² laut berbanding 16.916,02 km² darat. Garis pantainya sepanjang 663,02 km dengan 69 pulau, 41 di antaranya pulau kecil. Perairan ini berada di jalur ALKI II, urat nadi pelayaran internasional yang menghubungkan Samudera Pasifik dan Hindia.
Di tengah kekayaan ekosistem itu—terumbu karang, padang lamun, hutan mangrove, habitat penyu, dan populasi kima—ambisi pertambangan LTJ di bawah bukit-bukit sekitar Mamuju mulai bergerak. BUMN bentukan Danantara sudah duduk di meja rapat membahas penambangan di sana, nyaris tanpa diskusi tentang risiko bagi laut.