SULAWESI BARAT — Wakil Ketua I DPRD Provinsi Bengkulu, Teuku Zulkarnain, memimpin langsung sidak tersebut bersama Anggota Komisi III Suharto dan Darmawansyah. Mereka disambut General Manager PT Pelindo Regional 2 Bengkulu, Dr. Dimas Rizky Kusmayadi, yang saat itu tengah menggelar pengajian rutin internal.
“Akses tersebut sejatinya masuk dalam kawasan PT Pelindo. Kabar baiknya, PT Pelindo berkomitmen memasukkan proyek perbaikan jalan tersebut ke dalam proses lelang. Diperkirakan pada September ini sudah ada progres fisik dengan menerapkan sistem buka-tutup selama masa pengerjaan,” ujar Teuku kepada wartawan.
Untuk mengurai kemacetan, DPRD berencana mengalihkan arus lalu lintas ke jalur alternatif evakuasi. Namun, jembatan di jalur itu juga rusak. Dewan akan berkoordinasi dengan Danrem setempat untuk mengerahkan pasukan Zeni TNI memulihkan jembatan darurat.
Pengerukan Alur Pelabuhan: Dari 6,5 Meter ke 12 Meter
Agenda utama sidak juga menyoroti pengerukan alur Pelabuhan Pulau Baai yang saat ini baru mencapai kedalaman 6,5 meter Low Water Spring (LWS). Pihak Pelindo kini sedang memproses lelang untuk pengerukan hingga kedalaman 12 LWS sesuai standar internasional.
Jika target itu tercapai, kapal kargo skala besar bisa bersandar langsung di Pulau Baai. Pemprov Bengkulu dan Pelindo telah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) yang mewajibkan seluruh komoditas hasil bumi Bengkulu didistribusikan melalui Pelindo jika alur internasional terwujud.
Teuku mengapresiasi respons positif dari pihak Agro Mukomuko. Komoditas CPO yang sebelumnya dikirim melalui Pelabuhan Teluk Bayur (Sumatera Barat), per hari ini sudah dialihkan ke Pelabuhan Pulau Baai. “Jika rencana revitalisasi dengan total anggaran Rp1 Triliun ini terealisasi, Pelabuhan Pulau Baai bisa menjadi yang terbaik kedua setelah Tanjung Priok. Seluruh ekspor batu bara, kopi, karet, kelapa, dan CPO cukup lewat sini. Ekonomi Bengkulu bisa melonjak di atas 7 persen dan menyerap ribuan tenaga kerja,” tambah Teuku.