MAMUJU — Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Sulawesi Barat, Muhammad Yasir Fattah, menyatakan pemantauan karhutla dan pelayanan air bersih merupakan bagian dari kesiapsiagaan pemerintah daerah menghadapi dampak musim kemarau. Air bersih dibagi ke tiga lokasi dengan porsi berbeda, mulai dari 2.000 liter hingga 5.000 liter per titik.
Langkah tersebut sejalan dengan arahan Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka dan dukungan Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Barat Junda Maulana. Keduanya meminta koordinasi penanggulangan bencana diperkuat agar pelayanan di lapangan berjalan sesuai kebutuhan warga.
Pendistribusian air bersih menyasar Jalan Soekarno Hatta, BTN Puncak Indah, dan Rumah Jabatan Bupati (Sapota) Kelapa Tujuh, Kelurahan Rimuku, Kecamatan Mamuju. Porsi terbesar dikirim ke BTN Puncak Indah sebanyak 5.000 liter.
Total air bersih yang disalurkan mencapai 10.000 liter. Petugas menurunkan armada tangki ke tiap titik sesuai kebutuhan warga setempat.
Berdasarkan Laporan Harian Posko periode 20–21 Oktober 2026, Tim IV memantau perkembangan kebakaran hutan dan lahan di wilayah Sulawesi Barat melalui Dashboard Pemantauan Karhutla dan situs resmi BMKG. Pemantauan difokuskan pada informasi sebaran titik panas (hotspot).
Data hotspot menjadi acuan awal bagi tim di lapangan untuk menentukan wilayah yang perlu pengecekan lebih lanjut. BPBD Sulbar belum merinci jumlah titik panas yang terdeteksi pada periode laporan tersebut.
Muhammad Yasir Fattah menegaskan bahwa pemantauan karhutla dan pelayanan pemenuhan kebutuhan air bersih merupakan bagian dari upaya kesiapsiagaan pemerintah daerah. Upaya itu menyasar dampak musim kemarau, kekeringan, serta potensi kebakaran hutan dan lahan.
Distribusi air bersih menyasar warga yang mengalami kesulitan akses air pada musim kemarau. BPBD Sulbar melalui Tim IV Siaga Darurat Karhutla dan Kekeringan melanjutkan pemantauan harian untuk memetakan kebutuhan air bersih berikutnya di wilayah Kabupaten Mamuju dan sekitarnya.