SULAWESI BARAT — Jakarta — Danantara mempercepat program penataan portofolio BUMN dengan menyatukan aset perhotelan yang selama ini dikelola secara terpisah oleh sejumlah perusahaan negara. CEO Danantara Rosan Roeslani mengungkapkan, jumlah hotel yang akan dikonsolidasikan mencapai 137 unit, lebih banyak dari proyeksi awal yang sekitar 120 hotel.
"Kita terus menggabungkan baik itu rumah sakit, hospital, kurang lebih setelah kita gabungkan ini kita punya ada 137 hotel, kita juga gabungkan," ujar Rosan dalam konferensi pers terkait RAPBN dan Nota Keuangan Tahun Anggaran 2027, Jumat (14/8/2026).
Proses penyatuan hotel BUMN sebenarnya sudah berjalan sejak pertengahan 2026. Pada Juni lalu, Danantara bersama Badan Pengaturan BUMN mengarahkan seluruh aset hotel pelat merah masuk ke dalam ekosistem InJourney, holding BUMN yang membawahi sektor aviasi dan pariwisata.
Sebanyak 45 hotel dari berbagai BUMN telah menandatangani Conditional Sale and Purchase Agreement (CSPA) pada 26 Juni 2026 sebagai tahap awal penyatuan. Aset-aset tersebut berasal dari sejumlah perusahaan konstruksi dan operator pelabuhan, antara lain Adhi Karya, ASDP Indonesia Ferry, Garuda Indonesia, Hutama Karya, Krakatau Steel, Nindya Karya, Pembangunan Perumahan, Waskita Karya, dan Wijaya Karya.
Pengelolaan hotel-hotel tersebut selanjutnya dijalankan oleh PT Hotel Indonesia Natour yang dikenal dengan nama InJourney Hospitality. Dengan integrasi ini, pengelolaan hotel BUMN tidak lagi berjalan sendiri-sendiri di masing-masing perusahaan, melainkan terpusat dalam satu manajemen.
Danantara menegaskan bahwa konsolidasi ini bukan sekadar mengurangi jumlah badan usaha. Tujuan utamanya adalah memastikan aset yang telah ditata bisa dikelola lebih produktif dan memberikan kontribusi ekonomi yang lebih optimal bagi negara.
Rosan mencontohkan langkah serupa yang dilakukan di sektor manajemen investasi. Pada Juli 2026, Danantara telah mengalihkan pengendalian empat perusahaan manajer investasi BUMN ke Danantara Asset Management. Keempat perusahaan tersebut tercatat memiliki total dana kelolaan lebih dari Rp170 triliun per Juni 2026.
Untuk sektor perhotelan, skema penataan dilakukan melalui restrukturisasi, merger, hingga divestasi. InJourney diharapkan mampu menciptakan skala ekonomi yang lebih besar, meningkatkan efisiensi operasional, serta memperkuat standar layanan dan daya saing di industri hospitality nasional.
Dengan bertambahnya jumlah hotel yang masuk ke dalam ekosistem InJourney, posisi perusahaan ini sebagai operator hotel akan semakin kokoh. Saat ini InJourney sudah mengelola jaringan hotel yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Jawa, Bali, dan Sumatera.
Konsolidasi 137 hotel ini menjadi bagian dari agenda besar Danantara untuk merampingkan struktur BUMN. Selain sektor perhotelan dan manajemen investasi, penataan portofolio juga menyasar sektor rumah sakit dan sektor-sektor lain yang selama ini tumpang tindih di berbagai perusahaan pelat merah.
Langkah ini sejalan dengan arahan pemerintah untuk memastikan setiap aset negara yang dikelola BUMN memberikan nilai tambah nyata, bukan sekadar menjadi beban operasional yang berjalan sendiri-sendiri tanpa sinergi.