MAMUJU — Penurunan luas tanam padi di dua kabupaten itu terjadi karena petani menahan diri menghadapi risiko kekeringan. Di Majene, peringatan dini cuaca ekstrem dari BMKG membuat sebagian petani memilih tidak memulai pertanaman. Kondisi lahan yang benar-benar kering memperkuat keputusan tersebut.
Polewali Mandar menghadapi situasi berbeda. Petani di sana tetap menanam dengan mengandalkan mesin pompa air, seperti yang biasa mereka lakukan pada tahun-tahun sebelumnya.
Mengapa Petani Polman Tetap Nekat Menanam?
Pengalaman musim kemarau sebelumnya membuat petani Polman berspekulasi bahwa air masih tersedia meski cuaca kering. Kebanyakan pompa air sudah disiapkan jauh sebelum musim tanam.
"Petani di Polman tetap menanam karena pengalaman tahun-tahun sebelumnya air masih ada meski kering. Kebanyakan pompa air mereka sudah disiapkan, tetapi sekarang masalah utamanya adalah sumber airnya yang mengering sehingga pompa tidak bisa menyedot air," kata Masnawi Malik di Mamuju, Selasa (6/10/2026).
Penurunan drastis debit air tanah dan sungai membuat mesin pompa tidak dapat difungsikan secara optimal. Sawah tadah hujan di Polman menjadi kawasan yang paling parah terdampak kemarau.
Majene: Peringatan BMKG Ubah Keputusan Petani
Respons petani di Majene berbeda. Sejak peringatan dini cuaca ekstrem dikeluarkan BMKG, luas pertanaman di kabupaten itu mulai turun.
"Kalau di Majene, sejak ada peringatan dari BMKG, luas pertanamannya memang sudah agak turun karena kondisi lahan yang betul-betul kering," ujar Masnawi.
Dua pola respons ini menunjukkan dampak kemarau tidak seragam di Sulawesi Barat. Faktor pengalaman lokal dan ketersediaan sumber air menentukan pilihan petani di masing-masing kabupaten.
Langkah DTPHP Sulbar Selanjutnya
DTPHP Sulbar berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten untuk memetakan potensi sumber air alternatif. Bantuan penanganan darurat juga disalurkan bagi kawasan pertanian yang terdampak krisis air.
Krisis air akibat kemarau panjang menjadi persoalan utama yang harus diselesaikan sebelum musim tanam berikutnya. Tanpa sumber air yang memadai, mesin pompa yang sudah disiapkan petani tidak akan banyak membantu.
DTPHP Sulbar belum merinci besaran penurunan luas tanam maupun jumlah petani yang terdampak di kedua kabupaten tersebut.