Pencarian

Pneumonia Anak Naik 20 Persen Akibat Karhutla, Ini Peringatan IDAI

Senin, 28 September 2026 • 09:21:31 WIB
Pneumonia Anak Naik 20 Persen Akibat Karhutla, Ini Peringatan IDAI
Anak menjalani pemeriksaan pernapasan di rumah sakit di wilayah terdampak karhutla.

SULAWESI BARAT — Kasus pneumonia dan ISPA pada anak melonjak hingga 20 persen di wilayah terdampak karhutla. Kementerian Kesehatan mencatat 113.336 kasus ISPA di tujuh provinsi, dengan 26.545 di antaranya menyerang balita. IDAI mengingatkan orang tua soal bahaya PM2.5 dan kapan harus segera ke dokter.

Kebakaran hutan dan lahan yang meluas di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat membawa dampak serius bagi kesehatan anak. Di RS Bhayangkara Pontianak, Kalimantan Barat, kasus ISPA dan pneumonia anak naik sekitar 10-20 persen sejak karhutla meluas.

Angka itu bukan sekadar statistik. Di baliknya ada anak-anak yang sesak napas, batuk berkepanjangan, dan harus dirawat di rumah sakit.

Seberapa Besar Dampak Karhutla pada Pernapasan Anak?

Kementerian Kesehatan RI mencatat 113.336 kasus ISPA akibat karhutla hingga 9 September 2026 di tujuh provinsi terdampak. Sebanyak 26.545 kasus terjadi pada balita.

Di Riau, tercatat 10.783 kasus ISPA sepanjang Agustus-September 2026. Kelompok anak usia 0-9 tahun menjadi yang paling banyak terpapar. Sementara di Kalimantan Selatan, ada 524 kasus pneumonia selama periode kemarau dan karhutla.

Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr dr Piprim Basarah Yanuarso, SpA, Subsp Kardio(K), menegaskan kondisi ini bukan persoalan lingkungan semata.

"Karhutla bukan sekadar bencana lingkungan, tetapi juga darurat kesehatan anak dan kelompok rentan," kata Piprim dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom.

Mengapa Anak Lebih Rentan Terpapar Asap Karhutla?

Asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 yang bisa masuk jauh ke saluran pernapasan. Partikel berukuran sangat kecil ini bahkan dapat menembus aliran darah.

Anak-anak menghirup lebih banyak udara dibandingkan berat tubuhnya. Sistem pernapasan dan kekebalan tubuh mereka juga masih berkembang, sehingga belum mampu melawan paparan sekuat orang dewasa.

Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, dr Wahyuni Indawati, SpA, Subsp Respi(K), menjelaskan bahaya PM2.5 dari karhutla berbeda dari sumber polusi lain.

"PM2.5 dari asap kebakaran hutan dapat hingga 10 kali lebih berbahaya bagi pernapasan anak dibanding PM2.5 dari sumber lain karena komposisi kimianya memiliki potensi oksidasi dan pro-inflamasi yang lebih tinggi," jelas Wahyuni.

Meta-analisis yang dikutip Wahyuni menunjukkan setiap kenaikan 10 µg/m3 PM2.5 akibat kebakaran hutan berasosiasi dengan peningkatan sekitar 6 persen rawat inap karena asma dan 7 persen kunjungan IGD terkait asma.

Anak di bawah 5 tahun paling perlu diwaspadai. Anak dengan asma, bronkiektasis, penyakit paru kronis, jantung bawaan, atau riwayat displasia bronkopulmonal juga berisiko mengalami perburukan.

Kapan Anak Harus Belajar dari Rumah?

IDAI dan Surat Edaran Mendikdasmen Nomor 20 Tahun 2026 mengatur pembelajaran di daerah terdampak berdasarkan kondisi ISPU harian. ISPU dipantau minimal dua kali sehari, sebelum pembelajaran dan pada pertengahan hari.

Saat ISPU 1-50 (baik), pembelajaran tatap muka berjalan normal. Pada ISPU 51-100 (sedang), tatap muka tetap berjalan tetapi aktivitas luar ruangan seperti upacara, olahraga, dan ekstrakurikuler dibatasi atau dipindah ke dalam ruangan.

Jika ISPU 101-200 (tidak sehat), pembelajaran tatap muka dibatasi ketat dan kelompok rentan termasuk anak diarahkan belajar dari rumah. Pada ISPU 201-300 (sangat tidak sehat), seluruh peserta didik wajib mengikuti pembelajaran jarak jauh. ISPU di atas 300 (berbahaya) berarti seluruh kegiatan pembelajaran dilakukan secara jarak jauh.

Kapan Harus Segera ke Dokter?

IDAI mengingatkan orang tua untuk tidak menunda pemeriksaan jika anak mulai menunjukkan gangguan pernapasan.

"Kesehatan anak adalah prioritas utama. Jangan ragu untuk segera membawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat jika muncul gejala sesak napas, batuk berkepanjangan, atau penurunan kesadaran. Pencegahan dan deteksi dini adalah kunci," tegas Piprim.

Selama kualitas udara memburuk, batasi aktivitas luar ruangan anak, tutup jendela rumah, gunakan air purifier jika ada, dan pastikan anak minum cukup air. Pantau ISPU di wilayah masing-masing setiap hari.

Lonjakan kasus pneumonia dan ISPA pada anak akibat karhutla bukan hal yang bisa diabaikan. Dengan memantau ISPU, mengenali gejala bahaya, dan segera mencari bantuan medis, ibu bisa melindungi si kecil dari dampak asap yang tidak terlihat.

Follow infomandar.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: health.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks