MAMUJU — Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Barat Faizal Thamrin membuka langsung kegiatan tersebut. Peserta dibagi ke dua kelas: 57 orang mendalami formulasi dan aplikasi pupuk organik, sementara 30 orang lain mengikuti pelatihan teknik pemetaan lokasi perkebunan kelapa sawit.
Pelatihan menyasar kelompok tani dari Kabupaten Pasangkayu. Materi disampaikan pakar dan instruktur berpengalaman yang diterjunkan IPB Training, lembaga pelatihan di bawah naungan IPB University.
Fluktuasi harga pupuk kimia menjadi alasan utama pelatihan ini digelar. Faizal menyebut kemampuan meracik pupuk sendiri membuat petani lebih mandiri dan mampu menekan ongkos produksi.
"Aplikasi pupuk organik membantu petani menekan biaya produksi di tengah fluktuasi harga pupuk kimia, sementara teknik pemetaan sangat penting untuk kepastian data lahan serta pemenuhan sertifikasi seperti ISPO," ujar Faizal dalam sambutannya.
Ia menilai pemanfaatan teknologi pupuk organik dan pemetaan berbasis digital menjadi kunci peningkatan efisiensi sekaligus legalitas lahan. Kerja sama dengan IPB Training disebutnya sebagai langkah nyata mendorong kemandirian petani.
Pada sesi pupuk organik, peserta dilatih menyusun formulasi berbasis bahan lokal secara terukur. Materi mencakup kalkulasi dosis hingga pemanfaatan aplikasi digital pendukung.
Tujuannya menjaga kualitas unsur hara tanah secara berkelanjutan. Peserta tidak hanya diajari meracik, tetapi juga menghitung kebutuhan hara sesuai kondisi kebun masing-masing.
Sesi pemetaan membimbing peserta menggunakan teknologi geospasial dan perangkat Sistem Informasi Geografis sederhana. Peserta berlatih mengambil titik koordinat batas lahan dan membuat poligon area kebun.
Materi berlanjut ke pengolahan data spasial dasar. Targetnya, seluruh areal perkebunan tercatat akurat dengan prinsip by name, by address, by point.
Pencatatan lahan yang rapi memudahkan petani memenuhi syarat sertifikasi. Data spasial yang valid juga mempermudah pemerintah daerah memetakan potensi dan masalah perkebunan rakyat.
Tim Trainer IPB Training, Prof Hariyadi, menjelaskan pelatihan berjalan lewat kerja sama tiga pihak. IPB Training bertindak sebagai pelaksana kegiatan, BPDP sebagai penyedia dana, dan Dinas Perkebunan menjangkau petani peserta.
"Pelatihan ini bisa terlaksana atas kerja sama antara IPB Training sebagai pelaksana kegiatan, BPDP sebagai penyedia dana, dan Dinas Perkebunan yang memiliki petani. Ini kolaborasi yang baik dan patut kita syukuri," kata Hariyadi.
Program ini dirancang menjawab tantangan modernisasi sektor perkebunan. Selain mendorong produktivitas, pelatihan memperkuat penerapan prinsip kelapa sawit ramah lingkungan dan berkelanjutan di Sulawesi Barat.