SULAWESI BARAT — Bayi prematur bernama Bissan harus terpisah dari Bundanya, Sundus al-Kurd, selama lebih dari dua tahun akibat konflik Gaza. Saat akhirnya bertemu kembali pada Maret 2026, Bissan tidak mengenali Sundus sebagai ibunya. Kisah ini menyentuh sekaligus memberi pelajaran berharga tentang ikatan ibu dan anak.
Bissan lahir sekitar enam minggu lebih awal dari perkiraan, tepat setelah sebuah serangan menghantam rumah keluarganya di Beit Lahiya, Gaza, pada Oktober 2023. Persalinan darurat itu dilakukan demi menyelamatkan nyawa Sundus, yang saat itu mengalami luka berat. Salah satu anak Sundus meninggal dunia sebelum sempat bertemu dengan Bissan yang masih berada di dalam kandungan.
Setelah lahir, Bissan membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit. Ia kemudian menjadi salah satu dari 29 bayi prematur yang dievakuasi dari Gaza ke Mesir. Tujuh bayi dilaporkan meninggal dunia selama berada di Mesir, sementara Bissan termasuk yang berhasil bertahan hidup.
Sementara Bissan menjalani perawatan di Mesir, Sundus tetap bertahan di Gaza. Selama lebih dari dua tahun, ia hanya bisa mengikuti perkembangan putrinya dari kejauhan. Ketika ada akses internet, Sundus berusaha melakukan panggilan video agar tetap bisa melihat dan berbicara dengan Bissan.
Namun komunikasi lewat layar tentu tak sama dengan kehadiran seorang ibu. Tidak ada pelukan ketika Bissan menangis. Tidak ada tangan yang menggenggamnya saat sakit. Tidak ada suara Bunda yang menenangkannya sebelum tidur.
Masa bayi adalah periode penting bagi anak untuk mengenali sosok yang merawat dan memberi rasa aman. Bissan justru melewati sebagian besar masa itu bersama pengasuh dan tenaga kesehatan di Mesir.
Pada Maret 2026, Bissan bersama sejumlah anak lainnya kembali ke Gaza dalam misi yang dibantu Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sundus akhirnya mendapat kesempatan memeluk putrinya secara langsung setelah bertahun-tahun hanya melihatnya melalui layar.
Namun pertemuan itu tidak berjalan seperti yang dibayangkan. Bissan tidak mengenali Sundus sebagai Bundanya. Anak kecil itu sudah tumbuh lebih dari dua tahun tanpa kehadiran Sundus dalam kesehariannya, sehingga ia harus beradaptasi dengan sosok yang sebenarnya adalah ibunya sendiri.
Sundus memilih tidak memaksa Bissan untuk langsung menerimanya. Ia perlahan menghabiskan waktu bersama putrinya — berjalan-jalan, bermain, makan bersama, dan melakukan aktivitas sederhana lainnya.
Hal-hal kecil yang terlihat biasa bagi keluarga lain justru sangat berarti bagi keduanya. Sundus perlu menunjukkan bahwa dirinya adalah sosok yang akan selalu ada untuk Bissan. Perlahan, hubungan itu mulai terbentuk.
Bissan mulai mengetahui siapa perempuan yang berada di sampingnya. Sosok yang menyuapi, mengganti pakaiannya, menyisir rambutnya, bermain dengannya, dan memberikan pelukan ketika ia ketakutan. "Mama" bukan lagi sekadar suara atau wajah di layar, melainkan seseorang yang benar-benar ada di hadapannya.
Kembali ke Gaza membawa tantangan lain bagi Bissan. Lingkungan yang ia kenal selama di Mesir sangat berbeda dengan kondisi Gaza saat ia kembali. Suara ledakan membuatnya ketakutan, bahkan suara balon yang pecah dapat membuatnya panik.
Reaksi ini wajar terjadi pada anak yang pernah mengalami pengalaman traumatis. Orang tua perlu peka terhadap tanda-tanda ketakutan pada anak dan memberikan rasa aman secara bertahap, tanpa memaksa anak untuk segera "baik-baik saja".
Kisah Sundus dan Bissan menunjukkan bahwa bonding atau ikatan emosional antara ibu dan anak tidak selalu terbentuk otomatis sejak lahir. Ikatan itu bisa dibangun kembali melalui kehadiran yang konsisten, sentuhan, dan momen-momen sederhana setiap hari.
Bagi ibu yang pernah terpisah dari anak karena alasan apa pun — rawat inap, pekerjaan, atau situasi darurat — kisah ini memberi harapan. Kedekatan tidak hilang permanen. Ia bisa tumbuh kembali lewat kesabaran dan waktu yang dihabiskan bersama.
Yang dibutuhkan bukan kesempurnaan, melainkan kehadiran. Sundus membuktikannya satu hari demi satu hari, sampai Bissan akhirnya menemukan kembali sosok Bundanya.