SULAWESI BARAT — Sekitar 1 dari 1.000 ibu mengalami postpartum psychosis setelah melahirkan, kondisi gawat yang sering luput disadari keluarga. Kenali gejala, faktor pemicu, dan langkah penanganan yang tepat agar ibu dan bayi tetap aman.
Postpartum psychosis muncul tiba-tiba, biasanya dalam dua minggu pertama setelah persalinan. Sayangnya, banyak keluarga menganggap perubahan perilaku ibu sebagai kelelahan biasa, sehingga bantuan medis datang terlambat.
Berbeda dari baby blues yang umum dialami ibu baru, psikosis pasca persalinan adalah keadaan darurat kesehatan mental. Ibu yang mengalaminya bisa kehilangan kontak dengan realitas dan berisiko melukai diri sendiri atau bayinya.
Psikosis pasca persalinan adalah gangguan mental serius yang memengaruhi cara seseorang memandang kenyataan. Ibu yang mengalaminya bisa mengalami halusinasi, delusi, paranoia, hingga perubahan perilaku yang membingungkan orang di sekitarnya.
Data NHS Inggris mencatat kondisi ini menimpa sekitar 1 dari 1.000 ibu setelah melahirkan. Meski jarang, risikonya tidak bisa diremehkan karena bisa menyerang siapa saja yang baru melahirkan, tanpa pandang latar belakang.
Pada kasus terberat, ibu dengan kondisi ini bisa mencoba menyakiti diri sendiri atau bayinya. Karena itu, deteksi cepat dan penanganan medis segera jadi kunci keselamatan ibu dan Si Kecil.
Para ahli belum menemukan penyebab pasti psikosis pasca persalinan. Dugaan sementara, kondisi ini muncul dari kombinasi beberapa faktor berikut: