SULAWESI BARAT — Lebih dari 100 profesional dari sektor pertambangan, panas bumi, energi, dan infrastruktur berkumpul di Fairmont Jakarta untuk menyaksikan bagaimana data geologi yang akurat mampu mengubah keputusan proyek miliaran rupiah. Seequent, yang telah 20 tahun berkarya di Indonesia, memamerkan teknologi yang tidak hanya membaca struktur batuan, tetapi juga menghitung risiko finansial sebelum alat bor menyentuh tanah.
Data yang dipaparkan dalam acara tersebut menunjukkan dampak konkret teknologi ini. Pada proyek nikel PT Stargate di Sulawesi, perangkat lunak Seequent berhasil menghemat biaya pengeboran hingga USD8 juta atau setara Rp128 miliar (kurs Rp16.000). Angka ini diraih berkat pengurangan kebutuhan pengeboran hingga 80 persen, sekaligus mendongkrak produktivitas karyawan sebesar 50 persen.
Di sektor energi panas bumi, hasil serupa juga dicatatkan Pertamina Geothermal Energy. Pada pengembangan Unit 3 Lumut Balai, pemodelan bawah permukaan multidisiplin menurunkan biaya pengeboran dari sekitar USD9 juta menjadi USD7,5 juta per sumur. Penghematan ini dinilai krusial di tengah tingginya risiko eksplorasi lapangan uap.
Adapun di sektor infrastruktur, kolaborasi perangkat lunak Bentley dan Seequent pada proyek Jalan Trans-Papua milik PT Hutama Karya menghasilkan penghematan desain hingga USD1 juta. Jadwal pengerjaan proyek pun dipersingkat dua bulan dari rencana awal.
Direktur Pengembangan Bisnis Seequent, Scott Moore, menegaskan bahwa pihaknya tidak menentukan komoditas atau metode yang dipakai perusahaan tambang. Fokus utama perusahaan adalah menyediakan kanvas digital bagi para ahli geosains untuk mengolah data mentah menjadi keputusan bisnis yang matang.
"Tidak penting apakah itu nikel, emas, atau tembaga. Kami menyerahkan kepada perusahaan bagaimana mereka ingin mengambil keputusan untuk proyeknya dan memenuhi ketentuan regulasi pemerintah. Tugas kami adalah memberikan teknologi agar insinyur dapat membuat keputusan terbaik berdasarkan data yang mereka miliki," ujar Scott kepada awak media di sela-sela acara.
Pernyataan ini relevan dengan kebutuhan Indonesia yang mengejar target produksi mineral kritis untuk ekosistem baterai kendaraan listrik. Pemahaman kondisi geologi yang presisi menjadi pembeda antara proyek yang untung dan yang membuang modal.
Ketua Umum Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), STJ Budi Santoso, menilai percepatan adopsi teknologi seperti kecerdasan artifisial (AI), pemodelan subsurface, dan aplikasi real-time menjadi kunci membangun sumber daya manusia geosains yang tangguh. "Teknologi-teknologi seperti ini mempercepat pemahaman kita tentang subsurface geologi. Dengan menggunakan teknologi, kita juga bisa mempercepat membuat keputusan berdasarkan bukti yang lebih baik," katanya.
Senada dengan itu, Ketua Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia (MGEI), Rosalyn Wullandhary, menyoroti pentingnya sinergi tiga pilar: industri, asosiasi profesi, dan akademisi. "Sektor geosains Indonesia akan terus berkembang melalui kolaborasi yang lebih erat. Acara seperti Seequent Connect Indonesia menjadi forum penting untuk berbagi pengalaman praktis dan mengembangkan kapasitas profesional," jelasnya.
Komitmen tersebut diwujudkan lewat kerja sama teknis dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk lisensi pengajaran. Seequent juga menyediakan pelatihan berbahasa Indonesia serta akses akademik terhadap perangkat lunak profesional, memastikan lulusan geologi siap pakai di industri.
Dengan dukungan terhadap proyek strategis nasional dan penguatan kapasitas SDM, Seequent memposisikan diri sebagai mitra teknologi yang mendampingi transisi energi dan hilirisasi mineral di Indonesia—sebuah pasar yang diakui Scott sebagai salah satu yang terpenting di Asia Pasifik.