SULAWESI BARAT — Pernyataan tegas itu disampaikan langsung juru bicara Chevrolet kepada The Drive, Kamis pekan ini. "Kami dapat mengonfirmasi bahwa produk ini tidak melalui proses persetujuan lisensi resmi GM dan tidak memenuhi standar lisensi GM," ujarnya. Pihaknya mengaku tengah berkoordinasi dengan mitra untuk menyelidiki bagaimana produk tersebut bisa sampai ke ritel.
Yang menarik, masalah utama kaos ini bukan sekadar legalitas. Desainnya justru jadi sorotan karena menampilkan tiga ilustrasi Silverado generasi GMT800 dalam bentuk regular cab, extended cab, dan crew cab. Masalahnya, ketiga gambar itu sama-sama punya dua pintu. Satu-satunya pembeda hanyalah panjang bak yang semakin memanjang.
Bagi penggemar pikap, kekeliruan ini amat mendasar. Silverado GMT800 dengan konfigurasi extended cab dan crew cab secara fisik punya empat pintu, bukan dua. Ilustrasi yang keliru ini menunjukkan bahwa desainer kaos tersebut sama sekali tidak memahami produk yang digambarkannya. Ironisnya, kaos ini sempat dipajang dengan label "officially licensed" di dua jaringan ritel besar Amerika.
Chevrolet sendiri dikenal ketat dalam urusan lisensi. Produsen yang bermarkas di Detroit itu memiliki tim khusus yang meninjau setiap desain merchandise sebelum diproduksi massal. Adanya produk seperti ini di rak toko menandakan celah pengawasan yang serius dalam rantai distribusi.
Kejadian ini sebenarnya bukan yang pertama. Sebelumnya, Ram sempat menjual kaos bertema patriotik yang menampilkan gambar Toyota Tacoma hasil generasi AI. Kesalahan itu jauh lebih memalukan karena menampilkan mobil kompetitor di produk resmi mereka sendiri.
Kasus Chevrolet kali ini memang tak seheboh insiden Ram, tapi tetap menjadi peringatan bagi industri. Penggunaan AI dalam desain produk komersil memang efisien, tapi risikonya jelas: kehilangan akurasi dan sentuhan manusia yang memahami detail teknis.
Juru bicara Chevrolet menegaskan pihaknya akan mengambil tindakan yang sesuai atas penyalahgunaan merek dagang ini. "Kami menangani penggunaan merek dagang kami dengan serius dan akan mengambil tindakan yang sesuai," tambahnya.
Bagi konsumen yang sudah terlanjur membeli kaos tersebut, nasibnya masih menggantung. Belum ada pernyataan resmi soal skema kompensasi atau penarikan produk secara masif. Yang jelas, kaos ini kini menjadi barang yang tidak hanya salah desain, tapi juga ilegal untuk diperjualbelikan.
Menariknya, kasus ini justru menjadi pengingat bahwa meskipun teknologi AI semakin canggih, pemahaman mendalam terhadap produk tetap menjadi syarat mutlak. Terutama untuk barang yang menjual identitas merek seperti merchandise otomotif.