SULAWESI BARAT — Kerja sama dengan Glencore bukan sekadar transaksi jual beli biasa. RMKE melihat kolaborasi ini sebagai katalis pertumbuhan segmen perdagangan batu bara yang selama ini menjadi salah satu pilar bisnis perseroan. Perusahaan logistik dan perdagangan batu bara terintegrasi ini optimistis target ambisius tersebut bisa tercapai.
Direktur Utama RMKE, Vincent Saputra, menyatakan bahwa target 3,8 juta ton tidak hanya ditopang oleh tambahan klien baru. Kesiapan infrastruktur logistik yang dimiliki perseroan menjadi faktor penentu.
"Pada tahun 2026, dengan infrastruktur yang telah terintegrasi dengan baik dan bertambahnya klien-klien baru dari segmen penjualan, RMKE menargetkan untuk menjual total 3,8 juta ton batu bara," ujar Vincent dalam keterangan resmi, Jumat (12/6/2026).
RMKE selama ini dikenal sebagai pemain di jasa logistik batu bara terintegrasi, mulai dari pengangkutan hingga pelabuhan. Integrasi ini memungkinkan perseroan mengontrol biaya dan efisiensi pengiriman, sehingga daya saing di pasar global meningkat.
Kontribusi Glencore yang mencapai 21,14 persen pada tiga bulan pertama tahun ini menunjukkan bahwa kemitraan strategis sudah mulai membuahkan hasil. Angka tersebut diungkapkan dalam keterbukaan informasi yang disampaikan perusahaan ke publik.
Bagi RMKE, masuknya Glencore sebagai pembeli utama bukan hanya soal volume. Nama besar perusahaan komoditas asal Swiss itu juga memberikan efek kepercayaan bagi calon pembeli lain. Ini penting karena pasar batu bara global tengah fluktuatif, dengan tekanan dari kebijakan transisi energi di berbagai negara.
Dengan target 3,8 juta ton, RMKE sejatinya ingin memperkuat posisi di segmen perdagangan batu bara yang marginnya lebih tipis dibanding jasa logistik, namun volumenya besar. Jika terealisasi, angka itu akan menjadi salah satu pencapaian tertinggi perseroan dalam beberapa tahun terakhir.
Ke depan, RMKE masih akan mengandalkan dua sumber pendapatan utama: jasa logistik dan perdagangan batu bara. Kemitraan dengan Glencore menjadi sinyal bahwa perusahaan tidak hanya fokus pada efisiensi operasional, tetapi juga agresif menjaring mitra global untuk mendongkrak volume penjualan.