SULAWESI BARAT — Dalam sesi wawancara dan permainan prediksi yang digelar di halaman Balai Kota New York, Mamdani mengakui belum sempat melakukan riset mendalam mengenai tim-tim peserta Piala Dunia. Namun, sebagai penggemar sepak bola fanatik, ia tetap mantap dengan pilihan hatinya.
Mamdani memproyeksikan Maroko akan mengalahkan Prancis di partai puncak. Keputusan ini diambil setelah pertimbangan panjang, terutama saat memilih antara dua opsi di final. “Hati menginginkan apa yang diinginkannya,” ujar Mamdani, yang juga dikenal sebagai penggemar berat Arsenal.
Pria kelahiran Uganda ini punya hubungan emosional kuat dengan sepak bola Afrika. Ia hadir langsung di Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, tepatnya di Stadion Soccer City saat Ghana melawan Uruguay. Momen itu membekas, termasuk saat ia menangis menyaksikan tangan ganteng Luis Suárez menggagalkan peluang Ghana ke semifinal.
Prediksi Mamdani penuh kejutan. Di babak 32 besar, ia memilih Haiti lolos, Brasil tersingkir oleh Jepang, dan Amerika Serikat melaju hingga perempat final sebelum kalah dari Inggris. Sementara itu, Portugal yang ia ejek saat konferensi pers Maret lalu—“Itu bukan Portugal”—diprediksi gugur di babak 32 besar oleh Inggris.
Maroko sendiri masuk turnamen sebagai tim peringkat ketujuh FIFA. Empat tahun lalu di Qatar, mereka menjadi negara Afrika pertama yang menembus semifinal Piala Dunia. Saat itu, Mamdani—yang masih menjabat anggota DPR negara bagian New York—merayakan kemenangan Maroko atas Portugal bersama komunitas Afrika Utara di Astoria, Queens.
Mamdani tak hanya bicara. Ia sudah menyiapkan 1.000 tiket seharga 50 dolar AS untuk warga New York yang ingin menonton tujuh dari delapan pertandingan Piala Dunia di Stadion MetLife, New Jersey. Tiket dibagikan melalui undian acak. Maroko sendiri akan memulai perjuangan melawan Brasil pada 13 Juni di stadion yang sama.
Saat mengumumkan program tiket itu pada Mei lalu, Mamdani hadir bersama pemain timnas AS Tim Weah dan Mark McKenzie, keduanya asli New York. Ia optimistis Amerika Serikat bisa memuncaki Grup D, lalu mengalahkan Kanada dan Belgia, sebelum akhirnya dihentikan Inggris.
Mamdani adalah langka di politik Amerika: pejabat publik yang secara konsisten menjadikan sepak bola sebagai bagian dari kebijakan publik dan identitas budaya. Ia pernah menghadiri salat Idul Adha di Bronx dengan mengenakan koko bertuliskan Arsenal, dan berkampanye menentang kebijakan harga dinamis FIFA. Ia juga menggelar pesta nonton final Piala Afrika di sebuah pengadilan kota.
Kini, dengan prediksi beraninya, Mamdani berharap Piala Dunia 2026 menjadi panggung bagi Afrika untuk pertama kalinya mengangkat trofi paling bergengsi di planet ini.