MAMUJU TENGAH — Ketua SPKS Mateng, Irfan, menyatakan bahwa aksi turun ke lapangan pada Kamis lalu merupakan respons atas instruksi langsung dari SPKS Pusat yang telah berkoordinasi dengan kementerian terkait. Tujuannya, membangun komunikasi dengan pihak perusahaan demi mencari solusi atas fluktuasi harga TBS yang merugikan petani.
"Kami diminta membangun komunikasi dengan pihak perusahaan guna mencari solusi terbaik. Kami tidak ingin ada pihak yang dirugikan, baik itu perusahaan, petani, maupun pemerintah," kata Irfan kepada wartawan.
Berdasarkan pantauan SPKS, tekanan di jalur distribusi TBS perlahan mereda. Antrean truk pengangkut sawit yang sebelumnya mengular di PT Trinity Palmas Plantation (TPP) di Tabolang, Kecamatan Topoyo, kini dilaporkan kembali normal. Kondisi serupa terjadi di PT Mitra Andalan Sawit (MAS) di Barakkang, Kecamatan Budong-Budong, di mana kepadatan kendaraan mulai menyusut.
Kedua perusahaan tersebut kompak mematok harga beli TBS di angka Rp 1.780 per kilogram. Namun, nasib berbeda dialami petani yang menjual ke tengkulak. Di tingkat pengepul, harga sawit terpantau mati kutu di kisaran Rp 1.200 hingga Rp 1.400 per kilogram.
Humas PT Mitra Andalan Sawit (MAS), Joel, membongkar penyebab utama penurunan drastis harga TBS beberapa pekan terakhir. Menurutnya, kebijakan baru terkait ekspor Crude Palm Oil (CPO) dari pemerintah pusat hadir secara mendadak tanpa sosialisasi yang memadai.
"Tiba-tiba muncul kebijakan baru tanpa adanya sosialisasi awal kepada perusahaan. Saat itu seluruh manajemen perusahaan sempat panik karena belum ada kepastian ke mana pasokan CPO akan dipasarkan," ungkap Joel.
Meski sempat mengguncang pasar, Joel optimistis harga akan pulih. Pihaknya kini tengah mendalami regulasi baru tersebut. Ia bahkan memproyeksikan harga TBS ke depan justru berpotensi melonjak melampaui angka saat ini.
Menanggapi situasi ini, Ketua SPKS Mateng, Irfan, meminta para petani swadaya untuk tetap tenang. Ia mengimbau agar tidak ada tindakan spekulatif yang justru merugikan mereka sendiri. SPKS berjanji akan terus mengawal implementasi kebijakan agar tetap berpihak pada kesejahteraan petani kecil.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan terbaru mengenai kondisi antrean maupun fluktuasi harga di pabrik kelapa sawit milik PT Surya Lestari Raya (SLR 2) yang berada di Desa Babana, Kecamatan Budong-Budong.