MAJENE — Seorang ibu dua anak di Majene menjalani rutinitas ganda setiap harinya. Ia harus membagi waktu antara bekerja sebagai tenaga honorer dan mengelola usaha mikro miliknya sendiri. Langkah ini diambil untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya yang terus meningkat.
Tekanan ekonomi menjadi alasan utama ibu tersebut mulai merintis usaha. Gaji sebagai tenaga honorer dinilai tidak lagi cukup untuk menutupi biaya rumah tangga, terutama kebutuhan anak-anak yang terus bertambah.
Dari situlah ia mulai mencari tambahan penghasilan dengan membuka usaha kecil-kecilan di sela waktu kerjanya. Produk yang dijual pun sederhana, namun ia optimis bisa berkembang seiring waktu.
Setiap pagi, ia lebih dulu menyelesaikan tugas sebagai honorer di instansi tempatnya bekerja. Setelah jam kerja usai, ia langsung beralih mengurus usaha mikro yang dirintisnya, mulai dari produksi hingga pemasaran.
Tantangan terbesar adalah mengatur waktu antara pekerjaan utama, usaha sampingan, dan mengurus kedua anaknya. Namun, ia mengaku sudah terbiasa dengan ritme tersebut dan terus berusaha konsisten.
Meski lelah, ia mengaku tidak ingin bergantung sepenuhnya pada satu sumber pendapatan. Usaha mikro yang dijalankan menjadi harapan baru untuk masa depan keluarganya.
Kisah perjuangan ibu dua anak ini mulai dikenal di lingkungan sekitarnya. Banyak tetangga dan sesama ibu rumah tangga yang terinspirasi untuk mencoba hal serupa, yaitu memanfaatkan waktu luang untuk berwirausaha.
Fenomena ini menunjukkan bahwa menjadi pelaku UMKM bukan hanya milik pengusaha besar. Ibu rumah tangga di daerah pun bisa mengambil peran aktif dalam menggerakkan ekonomi lokal, sekaligus membantu perekonomian keluarga.
Ke depan, ia berharap bisa mengembangkan usahanya lebih besar lagi. Dukungan dari pemerintah daerah, seperti akses permodalan atau pelatihan, dinilai sangat dibutuhkan agar usaha mikro yang dijalankan bisa naik kelas.
Kisah ini menjadi potret nyata perjuangan masyarakat kecil di daerah yang tak kenal lelah dalam mencari nafkah. Semangat seperti inilah yang menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan di Sulawesi Barat.