JAKARTA — Tekanan terhadap rupiah kembali terasa di awal perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.00 WIB, mata uang Garuda melemah 0,30 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, menyebut pelemahan rupiah merupakan imbas langsung dari kabar penyerangan terbaru Amerika Serikat ke Iran. “Memperumit prospek harapan pada perdamaian di Timur Tengah,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com.
Kondisi geopolitik yang memanas mendorong penguatan dolar AS di pasar global. Akibatnya, hampir seluruh mata uang utama Asia dan negara maju kompak tertekan terhadap greenback.
Di kawasan Asia, yuan China turun 0,05 persen, ringgit Malaysia turun 0,24 persen, dan dolar Singapura merosot 0,16 persen. Yen Jepang dan peso Filipina masing-masing melemah 0,04 persen dan 0,18 persen. Hanya dolar Hong Kong yang mencatat penguatan tipis 0,03 persen.
Sementara itu, mata uang negara maju juga tak luput dari tekanan. Euro Eropa turun 0,13 persen, poundsterling Inggris terkoreksi 0,19 persen, dan dolar Australia melemah 0,29 persen. Dolar Kanada dan franc Swiss masing-masing turun 0,10 persen dan 0,20 persen.
Lukman memperkirakan pergerakan rupiah pada hari ini akan berada dalam rentang Rp17.750 hingga Rp17.900 per dolar AS. Batas atas kisaran tersebut nyaris bersentuhan dengan level psikologis yang terakhir kali disentuh rupiah pada masa pandemi.
Pelaku pasar dan importir disarankan mencermati pergerakan nilai tukar sepanjang hari mengingat volatilitas yang masih tinggi akibat sentimen eksternal. Keputusan bank sentral global dan data ekonomi AS pekan ini turut menjadi katalis yang patut diantisipasi.