MAMUJU — Harga tandan buah segar (TBS) sawit di Sulawesi Barat kembali terperosok ke level terendah. Di PT Mitra Andalan Sawit (MAS) Barakkang, harga turun Rp500 menjadi Rp1.680 per kilogram mulai Jumat (22/5/2026), dari sebelumnya Rp2.480.
Penurunan ini terjadi di tengah antrean panjang yang sudah berlangsung berhari-hari. Petani setempat menyebut situasi ini kian menyulitkan karena biaya produksi tetap tinggi sementara pendapatan terus merosot.
Hermansyah, seorang petani sawit di Barakkang, menuturkan bahwa penurunan harga terjadi hampir merata di sejumlah wilayah Mamuju Tengah. Bahkan di tingkat pengepul, harga lebih rendah lagi.
"Turun pak, kemungkinan masih turun katanya," ujarnya, Jumat sore.
Bukan hanya soal harga, antrean panjang di pabrik sawit menjadi keluhan utama. Bertruk-truk TBS terpaksa menjadi brondolan karena tidak kunjung masuk timbangan. Akibatnya, banyak petani memilih menunda panen demi menghindari kerugian lebih besar.
Para pengepul pun mulai mengurangi pembelian. Mereka khawatir harga di pabrik berubah sewaktu-waktu sebelum buah dibongkar. Hermansyah mengaku, dalam beberapa kasus, harga bisa berubah hingga lima kali sebelum buahnya ditimbang.
"Kadang sampai lima kali kena penurunan harga, buah belum bongkar," jelasnya.
Kondisi ini memicu kecurigaan di kalangan petani. Mereka menduga ada permainan harga oleh industri pengolahan sawit, mengingat jumlah pabrik di Sulawesi Barat masih sangat terbatas. Salah seorang petani, Aco Muliadi, menuding hal itu sebagai strategi perusahaan.
"Ini akal-akalan, karena mau buka kebun baru. Jadi mereka memainkan harga agar bisa membuka kebun dengan alasan ini menambah pabrik jadi memadai," ujarnya.
Petani kini berharap pemerintah daerah dan instansi terkait segera turun tangan. Mereka membutuhkan solusi atas anjloknya harga yang memberatkan, terutama di tengah tingginya biaya produksi dan sulitnya akses penjualan hasil panen.
Belum ada pernyataan resmi dari Dinas Perkebunan atau Pemprov Sulawesi Barat terkait situasi ini. Namun, tekanan di tingkat petani terus meningkat seiring harga yang tak kunjung stabil dan antrean yang tak terurai.