MAMUJU — Peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-118 di Sulawesi Barat berlangsung khidmat di lingkungan Pemerintah Provinsi setempat. Gubernur Suhardi Duka bertindak sebagai inspektur upacara dan menyampaikan pidato yang menekankan pentingnya rasa bangga terhadap identitas serta pencapaian bangsa.
Dalam sambutannya, Suhardi mengulas sejarah panjang lahirnya kesadaran nasional. Ia menyebut berdirinya Budi Utomo pada 20 Mei 1908 oleh Dr. Sutomo dan mahasiswa STOVIA sebagai titik awal bangsa Indonesia bersatu melawan penjajahan.
“Itu mulai tumbuh-tumbuhnya embrio kesadaran tentang berbangsa. Indonesia dijajah karena raja-raja berkelahi sendiri. Tahun 1908 mulai muncul kesadaran bahwa kita dijajah dan dihadapkan satu sama lain,” ujar Suhardi.
Gubernur Sulbar menyoroti kekuatan identitas bangsa yang jarang dimiliki negara lain. Menurutnya, Bahasa Indonesia menjadi alat pemersatu yang efektif di tengah keragaman suku dan budaya.
“Kalau kita bahasa resminya hanya Indonesia. Paling dipadukan dengan bahasa daerah. Itu yang membuat persatuan kita kuat,” katanya.
Suhardi membandingkan kondisi ini dengan negara-negara di Asia Tenggara yang masih memiliki pemisahan identitas berdasarkan etnis atau bahasa dalam sistem pendidikan mereka.
Dalam pidatonya, Gubernur juga membeberkan sejumlah capaian yang patut dibanggakan warga Sulbar. Ia menyebut Indonesia sudah mampu memproduksi pesawat terbang, kapal perang, hingga senjata sendiri.
“Di ASEAN saya kira kita lebih maju. Kita bisa bikin pesawat terbang, kapal, bahkan kapal perang. Kita juga bisa membuat senjata dan lain sebagainya. Banggalah kita sebagai bangsa Indonesia yang besar ini,” ungkapnya.
Tak hanya soal kebanggaan, Suhardi Duka juga mengajak masyarakat melakukan refleksi diri. Ia mengingatkan praktik gratifikasi dan sogok menyogok yang dinilai masih menjadi pekerjaan rumah bangsa ini.
Menurutnya, budaya negatif tersebut sejatinya sudah tumbuh sejak masa kerajaan melalui sistem upeti. Oleh karena itu, semangat Kebangkitan Nasional harus diikuti dengan perbaikan moral dan etika.
Peringatan Harkitnas ke-118 ini menjadi momentum bagi Pemprov Sulbar untuk memperkuat komitmen membangun Indonesia yang lebih maju, dimulai dari kesadaran individu masing-masing warga.