SULAWESI BARAT — Pasar saham domestik mengalami tekanan hebat setelah sempat mencatatkan penguatan singkat. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan indeks acuan bergerak sangat fluktuatif sepanjang hari. Kejatuhan ini menghapus seluruh apresiasi yang sempat terjadi pada sesi perdagangan sebelumnya.
Koreksi tajam IHSG didorong oleh rontoknya mayoritas saham sektoral di papan perdagangan. Sebanyak 532 saham tercatat melemah, sementara hanya 167 saham yang mampu menguat, dan 260 saham lainnya bergerak stagnan tanpa perubahan harga. Transaksi perdagangan berlangsung sangat aktif dengan volume mencapai 18,54 miliar lembar saham.
Nilai transaksi harian di BEI secara keseluruhan menembus Rp10,26 triliun dengan frekuensi transaksi sebanyak 1,25 juta kali sepanjang sesi berlangsung. Saham-saham kapitalisasi besar seperti BBCA dan BBRI menjadi buruan utama pelaku pasar, bersama dengan jajaran saham aktif lainnya seperti ASPR, BUMI, serta TPIA.
Sebelum berbalik melemah secara drastis, IHSG sebenarnya sempat menunjukkan taji dengan melesat naik 1% ke level 6.430,97. Momentum penguatan ini terjadi sesaat sebelum Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyampaikan pidato kenegaraan di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Pada fase apresiasi tersebut, sebanyak 382 saham terpantau menguat, sedangkan 260 saham turun dan 316 saham stagnan. Nilai transaksi pada momen lonjakan itu mencapai Rp4,83 triliun dengan volume perdagangan 7,92 miliar lembar saham. Namun, euforia tersebut tidak bertahan lama akibat tekanan jual pasca-pidato.
Tekanan pada indeks acuan sejatinya sudah terdeteksi sejak awal perdagangan pagi hari. Pada bel pembukaan, IHSG dibuka melemah 0,29% atau terkoreksi 18,47 poin ke posisi 6.352,20. Sebanyak 156 saham langsung terdepresiasi, 146 saham menguat, dan 314 saham stagnan, dengan kapitalisasi pasar yang menyusut ke angka Rp11.079 triliun.
Sesaat setelah dibuka, IHSG bahkan langsung ambles lebih dalam hingga menyentuh koreksi 1,35%. Pelaku pasar cenderung bersikap defensif menjelang pengumuman suku bunga acuan oleh Bank Indonesia pada Rabu siang ini. Keputusan bank sentral tersebut dinilai sangat krusial untuk menstabilkan nilai tukar rupiah serta menjaga aliran modal asing di pasar keuangan domestik.