Rupiah Melemah ke 17.543 per Dolar AS, Dipicu Ketidakpastian Global dan Kenaikan Kebutuhan Dolar Musiman

Penulis: Yasir  •  Rabu, 13 Mei 2026 | 11:02:59 WIB
Rupiah melemah ke level 17.543 per dolar AS pada perdagangan pagi ini di tengah ketidakpastian global.

SULAWESI BARAT — Data dari Bloomberg menunjukkan bahwa rupiah dibuka menguat di level 17.515 per dolar AS namun kemudian kembali melemah 0,08% hingga mencapai 17.541 per dolar AS pada pukul 09.52 WIB. Situasi ini bertepatan dengan penurunan nilai tukar mata uang lain di Asia, seperti rupee India yang melemah 0,34% dan won Korea Selatan yang kehilangan nilai 0,29%.

Penyebab Utama Pelemahan Rupiah

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkapkan bahwa terdapat beberapa faktor yang berkontribusi terhadap tekanan pada nilai tukar rupiah saat ini. Ketegangan yang berkepanjangan di Timur Tengah telah menyebabkan lonjakan harga minyak, sementara ketidakpastian di pasar global menambah beban pada mata uang lokal.

Selain faktor eksternal, Destry juga menyebutkan adanya peningkatan kebutuhan dolar AS secara musiman. Hal ini terutama terkait dengan pembayaran utang luar negeri, dividen, serta kebutuhan untuk pembayaran ibadah haji. "Kondisi ini memang memicu permintaan dolar yang lebih tinggi di pasar domestik," ujarnya dalam keterangan resmi.

Kebijakan BI dalam Menghadapi Tekanan Nilai Tukar

Untuk mengatasi tekanan ini, BI berkomitmen untuk melakukan intervensi di pasar dengan strategi yang cerdas, baik di pasar spot maupun melalui instrumen DNDF dan NDF. Destry menegaskan bahwa BI berupaya mengoptimalkan semua instrumen operasi moneter untuk mengurangi dampak negatif terhadap rupiah.

"Kami percaya bahwa tekanan yang bersifat musiman ini akan mereda, dan nilai tukar rupiah dapat kembali ke level fundamentalnya," tambah Destry, menunjukkan keyakinan terhadap pemulihan nilai tukar di masa depan.

Outlook Pasar: Aliran Modal Asing Masuk

Meskipun terjadi pelemahan, BI mencatat adanya perbaikan dalam kepercayaan investor asing terhadap aset portofolio Indonesia. Pada bulan April, aliran modal asing ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Surat Berharga Syariah Negara (SRBI) tercatat mencapai Rp 61,6 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada tantangan, pasar tetap menarik bagi investor.

Ketersediaan likuiditas valas di pasar domestik juga menunjukkan pertumbuhan yang positif, dengan dana pihak ketiga valas tumbuh 10,9% secara tahunan hingga akhir Maret. Ini menjadi sinyal positif bahwa pasar valas Indonesia memiliki daya tahan di tengah tekanan eksternal.

Apa yang Terjadi Selanjutnya?

Dengan terus meningkatnya kebutuhan dolar dan intervensi dari BI, pelaku pasar diharapkan dapat memantau perkembangan nilai tukar rupiah dalam waktu dekat. Strategi yang diterapkan oleh BI diharapkan dapat menjaga stabilitas nilai tukar dan memberikan rasa aman bagi investor lokal maupun asing.

Reporter: Yasir
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top