SULAWESI BARAT — Tekanan terhadap rupiah berlanjut di awal sesi hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, dolar AS langsung melesat ke posisi Rp 17.400-an sejak pembukaan, mendekati level psikologis Rp 17.500 yang diwaspadai pelaku pasar.
Dolar AS Perkasa di Hadapan Mata Uang Asia
Kekuatan dolar AS tidak hanya terjadi di hadapan rupiah. Mata uang Paman Sam kompak menguat terhadap mayoritas mata uang utama Asia dan negara maju.
Terhadap yen Jepang, dolar AS naik 0,24%. Dolar juga menguat 0,29% terhadap baht Thailand dan 0,21% terhadap ringgit Malaysia. Di kawasan Asia lainnya, dolar AS naik 0,17% terhadap dolar Singapura.
Satu-satunya mata uang Asia yang mampu bertahan adalah yuan China, di mana dolar AS justru melemah tipis 0,02%.
Euro dan Dolar Australia Ikut Tertekan
Di pasar global, dolar AS juga menunjukkan dominasi. Euro terdepresiasi 0,07% terhadap greenback. Sementara itu, dolar Australia melemah lebih dalam, yakni 0,22%.
Penguatan dolar AS ini terjadi di tengah ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS (The Fed) masih akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Sentimen tersebut mendorong aliran modal kembali ke aset berdenominasi dolar.
Apa Artinya bagi Investor dan Pelaku Bisnis?
Pelemahan rupiah ke level Rp 17.487 membuat biaya impor bahan baku dan barang jadi semakin mahal. Perusahaan yang memiliki utang dalam dolar AS juga akan mencatatkan beban keuangan lebih besar.
Bagi investor pasar saham, tekanan kurs biasanya menjadi sentimen negatif bagi sektor-sektor yang sensitif terhadap nilai tukar, seperti properti dan konsumer. Sebaliknya, emiten komoditas tambang dan eksportir justru bisa diuntungkan karena pendapatan mereka dalam dolar AS.
Pelaku pasar kini menanti langkah Bank Indonesia (BI) untuk menstabilkan rupiah. Intervensi di pasar valas dan operasi moneter menjadi instrumen yang biasanya digunakan untuk menahan laju depresiasi.