SULAWESI BARAT — Perseteruan antara raksasa media dan pengembang AI ini memanas setelah pengakuan mengejutkan dalam sidang deposisi April lalu. Vinnie Monaco, insinyur privasi data OpenAI, mengungkapkan bahwa perusahaannya telah melakukan pencarian internal untuk mencari konten jurnalistik berhak cipta dalam dataset pelatihannya. Pengakuan ini langsung membantah argumen OpenAI sebelumnya yang mengaku tidak memiliki kemampuan teknis untuk melacak konten tersebut.
Lebih dari itu, Monaco juga mengungkapkan bahwa OpenAI telah mengumpulkan basis data berisi sekitar 78 juta percakapan ChatGPT yang telah dianonimkan. Data ini digunakan secara internal untuk mengukur seberapa sering model AI mereka "meregurgitasi" atau mengulang konten milik pihak lain. Temuan ini dianggap krusial karena para penggugat sebelumnya kesulitan mendapatkan akses ke data serupa.
Proyek Giraffe: Alat yang Diduga Disembunyikan
Tak lama setelah gugatan diajukan, OpenAI disebut telah mengimplementasikan alat bernama "Bloom filter" sebagai bagian dari "Project Giraffe". Alat ini dirancang khusus untuk mendeteksi dan mencatat regurgitasi—yaitu saat ChatGPT mengeluarkan output yang identik atau sangat mirip dengan teks asli dari pelatihannya. Keberadaan alat ini, menurut penggugat, membuktikan bahwa OpenAI sadar betul akan potensi pelanggaran yang terjadi.
"Jika OpenAI benar-benar percaya bahwa menyalin jurnalisme klien kami adalah tindakan yang adil dan legal, mereka tidak akan menyembunyikan fakta bahwa mereka telah melakukannya," ujar Ian B. Crosby, pengacara utama dari pihak penggugat, dalam pernyataan resminya.
Permainan Data yang Dipersoalkan
Konflik ini bermula saat penggugat meminta sampel 120 juta log percakapan ChatGPT. OpenAI berhasil menegosiasikan jumlahnya turun menjadi 20 juta log. Namun, ketika sampel tersebut akhirnya diserahkan ke pengadilan pada Desember lalu, isinya disebut "tidak dapat digunakan" oleh hakim karena terlalu banyak bagian yang disensor. Yang lebih parah, penggugat menuduh OpenAI menghapus miliaran output ChatGPT setelah gugatan diajukan, yang dinilai sebagai pelanggaran langsung terhadap perintah pengadilan untuk menjaga data.
Para penggugat kini meminta hakim untuk memberikan sanksi. Mereka ingin sampel 20 juta log tersebut tidak diakui sebagai bukti, dan meminta pengadilan menerima asumsi bahwa log ChatGPT akan menunjukkan regurgitasi massal konten mereka. Mereka juga menuntut OpenAI membayar biaya hukum yang timbul akibat pencarian bukti yang dianggap dipersulit ini.
Bantahan dari OpenAI
Menanggapi tuduhan tersebut, juru bicara OpenAI, Drew Pusateri, membantah keras. Ia menuduh New York Times justru berusaha mengakses percakapan pribadi pengguna yang tidak ada hubungannya dengan kasus ini. "Seiring melemahnya kasus Times dan mereka terpaksa mencabut beberapa klaim, mereka terus berusaha menginvasi privasi orang-orang yang tidak terlibat," kata Pusateri. Ia menegaskan akan terus membela privasi pengguna dan prinsip fair use yang sudah lama berlaku.
Kasus ini menjadi ujian penting bagi industri AI global, termasuk dampaknya terhadap pengguna di Indonesia. Jika pengadilan memenangkan pihak media, praktik pelatihan model AI bisa berubah drastis, berpotensi membatasi akses terhadap konten berita untuk pengembangan teknologi di masa depan.