SULAWESI BARAT — Manajer investasi Paradigm resmi menutup penggalangan dana untuk Fund III. Dalam pengumuman resmi, pendiri Paradigm Matt Huang menyebut dana tersebut akan digunakan untuk berinvestasi di "technical frontier" — istilah yang merujuk pada teknologi perbatasan yang mencakup AI dan robotika, di samping ekosistem kripto.
Pendanaan ini lebih rendah dari target awal USD 1,5 miliar yang dilaporkan Wall Street Journal pada Februari lalu. Meski demikian, angka ini tetap menjadi salah satu dana ventura terbesar di sektor teknologi tahun ini.
Fokus Investasi: AI, Robotika, dan Kripto
Paradigm tidak sepenuhnya meninggalkan kripto. Dalam sebuah blog, Huang dan mitra pengelola Alana Palmedo menegaskan pihaknya akan "terus berinvestasi di kripto dan penemuan kembali pasar serta sistem keuangan." Perusahaan juga akan melanjutkan riset dan pengembangan alat-alat blockchain seperti Foundry dan Reth, serta alat agen bernama Centaur.
Namun, AI dan robotika kini menjadi prioritas baru. "Ada begitu banyak hal lain yang terjadi saat ini yang cukup sulit untuk diabaikan," ujar Palmedo dalam wawancara dengan Bloomberg.
Portofolio Awal: Drone dan Antariksa
Fund III sudah mulai bergerak. Beberapa investasi awal tercatat mencakup Zipline, perusahaan pengiriman drone, dan True Anomaly, startup antariksa. Kedua perusahaan ini bergerak di luar ranah kripto, menandai pergeseran strategi investasi Paradigm.
Paradigm didirikan pada 2018 oleh Matt Huang, mantan partner di Sequoia Capital, dan Fred Ehrsam, salah satu pendiri bursa kripto Coinbase. Sejak awal, perusahaan ini fokus pada investasi tahap awal di sektor kripto sebelum akhirnya melebarkan sayap.
Dampak bagi Pasar Teknologi
Keputusan Paradigm untuk mendanai AI dan robotika mencerminkan tren global di mana modal ventura berlomba-lomba masuk ke sektor AI yang sedang panas. Sementara itu, pasar kripto masih menghadapi tantangan regulasi dan volatilitas harga.
Bagi pengguna teknologi di Indonesia, langkah ini bisa berarti lebih banyak inovasi di bidang drone pengiriman, otomatisasi, dan layanan berbasis AI dalam beberapa tahun ke depan. Startup-startupa yang didanai Paradigm berpotensi memperluas jangkauan layanan ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia.