SULAWESI BARAT — Pada pembukaan sesi pagi ini, rupiah tercatat menguat 63 poin dari posisi penutupan sebelumnya di Rp17.922 per dolar AS. Pergerakan ini menjadi angin segar bagi pasar uang domestik yang terus tertekan sentimen eksternal sepanjang pekan lalu.
Pekan Lalu: Rupiah Terjepit Suku Bunga The Fed dan Harga Minyak
Sepanjang pekan keempat Juni 2026, rupiah bergerak dalam tren bearish. Pada Senin (22/6), nilai tukar dibuka melemah ke Rp17.813 per dolar AS akibat kenaikan harga minyak dunia dan ketegangan geopolitik AS-Iran. Tekanan berlanjut pada Selasa (23/6) ketika rupiah kembali melemah 16 poin ke Rp17.859 per dolar AS.
Puncaknya terjadi pada Kamis (25/6), rupiah terperosok 15 poin ke Rp17.967 per dolar AS. Pelemahan ini dipicu kekhawatiran pasar terhadap sikap hawkish The Fed yang diperkirakan mempertahankan suku bunga tinggi sepanjang 2026. Sentimen itu kembali menekan pada Rabu (24/6) ketika rupiah melemah 0,40 persen ke Rp17.931 per dolar AS.
Sentimen Domestik: Impor Solar 300.000 Barel Akan Distop
Penguatan rupiah di awal pekan ini terjadi di tengah kabar positif dari sektor energi. Pemerintah memastikan mulai tahun ini akan menghentikan impor solar yang mencapai 300.000 barel per hari. Langkah ini dinilai mampu mengurangi tekanan terhadap neraca perdagangan dan cadangan devisa, dua faktor yang kerap memicu pelemahan rupiah.
Meski demikian, pelaku pasar tetap mencermati rilis data ekonomi AS pekan ini. Setiap data yang menunjukkan ketahanan ekonomi AS berpotensi memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed lebih lanjut, yang bisa membalikkan penguatan rupiah.
Proyeksi: Volatilitas Masih Tinggi, Investor Wajib Cermat
Sepanjang sesi perdagangan Senin ini, pergerakan rupiah diperkirakan masih fluktuatif. Para analis menyarankan investor mencermati dinamika pasar hingga penutupan sore nanti, mengingat sentimen global masih mendominasi pergerakan mata uang emerging market.
Level Rp17.859 per dolar AS menjadi area kritis. Jika penguatan berlanjut, rupiah berpotensi menguji level psikologis Rp17.800. Sebaliknya, jika tekanan eksternal kembali muncul, pelemahan ke area Rp17.900 terbuka lebar.