Mekari Officeless Rilis 5 Fitur AI, Aplikasi Internal Tetap di Bawah Kendali TI

Penulis: Yasir  •  Sabtu, 17 Oktober 2026 | 16:50:01 WIB
Mekari Officeless memperkenalkan lima kemampuan AI di Mekari Conference 2026 dengan pembatasan pembuatan aplikasi internal melalui persetujuan dan audit TI.

SULAWESI BARAT — Mekari Officeless memperkenalkan lima kemampuan AI di Mekari Conference 2026, membatasi pembuatan aplikasi internal lewat persetujuan dan audit TI. Lapisan AI mencakup Officeless Composer, Custom UI, Smart Copilot, MCP, dan SDK, menyusul temuan Kaspersky bahwa 24% organisasi Indonesia menyoroti penggunaan alat AI eksternal oleh karyawan sebagai risiko. Pendekatan ini menyasar perusahaan yang terikat UU Perlindungan Data Pribadi.

Pengembangan aplikasi internal yang biasanya memakan waktu berminggu-minggu bisa dipangkas jadi hitungan jam lewat bantuan artificial intelligence. Persoalannya, kecepatan itu sering kali tidak diikuti pengawasan: aplikasi muncul tanpa sepengetahuan tim teknologi informasi, data perusahaan disalin ke alat AI di luar organisasi, dan proses berjalan tanpa jejak audit.

Mekari Officeless menempatkan persoalan itu sebagai titik tolak. Platform ini menambahkan lapisan AI yang tetap memberi ruang bagi tim bisnis untuk bergerak cepat, tetapi akses data dan persetujuan perubahan tetap dipegang TI.

Lima Kemampuan AI yang Diperkenalkan

Di Mekari Conference 2026, Mekari Officeless memamerkan lima kemampuan sekaligus: Officeless Composer, Officeless Custom UI, Smart Copilot, MCP Officeless, dan Officeless SDK. Kelimanya dirancang agar AI mempercepat pembuatan aplikasi tanpa melepas kendali tata kelola.

Smart Copilot, misalnya, menampilkan rencana perubahan langkah demi langkah. Tidak ada yang berubah tanpa persetujuan pengguna, dan setiap tindakan tercatat. Sementara Officeless SDK memastikan aplikasi yang dibangun di luar platform, termasuk tampilan buatan AI dari pihak ketiga, tetap melewati autentikasi, validasi, dan hak akses yang sama.

Bagi tim bisnis, artinya mereka tidak perlu menunggu antrean TI untuk aplikasi internal. Rencana pembangunan disepakati bersama TI dan Kepatuhan sebelum dieksekusi lewat Officeless Composer. Bagi TI, seluruh aplikasi buatan AI terhubung ke satu platform yang aktivitasnya bisa dipantau.

Mengapa Tata Kelola Jadi Titik Lemah

Survei Kaspersky terbaru mencatat 24% organisasi di Indonesia mengidentifikasi penggunaan alat AI eksternal oleh karyawan sebagai salah satu faktor risiko yang umum. Secara global, survei MuleSoft 2026 terhadap 1.050 pemimpin TI menemukan rata-rata perusahaan mengelola 957 aplikasi, tetapi hanya 27% yang saling terhubung.

Kewajiban regulasi menambah tekanan. Perusahaan terikat UU No. 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi, sehingga aplikasi buatan AI yang menyentuh data perusahaan perlu aturan akses yang jelas.

Samiaji Adisasmito, Head of Business Mekari Officeless, menyebut tata kelola sebagai bagian yang paling langka saat ini.

"AI dapat mendorong proses pembuatan aplikasi menjadi lebih produktif dan efisien. Yang kini langka adalah tata kelolanya, siapa boleh mengakses data apa, dengan persetujuan siapa, dan apa bukti auditnya. Dengan lapisan AI ini, tim bisnis bisa bergerak secepat AI, sementara TI tetap memegang kendali. Kecepatan dan kepatuhan tidak perlu dikorbankan salah satunya," ujarnya dalam keterangan resmi.

Senada dengan itu, Sandy Kunvatanagarn, Head of Policy Southeast Asia (APAC) OpenAI, menyampaikan di panggung Mekari Conference 2026 bahwa tantangan terbesar adopsi AI di tingkat enterprise bukan lagi ketersediaan teknologi, melainkan cara menyelaraskannya dengan tata kelola, keamanan data, dan kepatuhan organisasi.

Hasil di JNE: Invoice B2B Dua Kali Lebih Cepat

Salah satu pengguna adalah JNE, perusahaan distribusi dan pengiriman dengan lebih dari 8.000 gerai dan agen di Indonesia serta lebih dari 50.000 karyawan. Setelah beralih ke Mekari Officeless, waktu pembuatan invoice B2B dengan jutaan Airway Bill (AWB) per invoice berkurang dari 7–10 hari menjadi 3–5 hari.

Indra Adi Putra, Head of Management Control System PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE), menjelaskan alasan peralihan tersebut.

"Karena JNE melayani wilayah yang sangat luas dengan ratusan variasi harga, kami membutuhkan produk yang highly customizable dan mampu menampung banyak data. Maka dari itu, kami beralih ke Mekari Officeless. Di JNE, dari satu marketplace saja, transaksi dalam satu periode bisa mencapai 6 sampai 7 juta AWB. Sebelumnya, setelah mendapat approval dari customer, proses pembuatan invoice-nya saja bisa memakan waktu 7 sampai 10 hari. Kini, kami sudah bisa menerbitkan invoice dalam waktu 3 sampai 5 hari. Bisa dikatakan, sistem ini menyediakan apa yang kami butuhkan," kata Indra.

Selain JNE, Mekari Officeless telah dipakai perusahaan di sektor pertambangan dan operasional lapangan, pengadaan (procurement), serta jasa keuangan dan perbankan (BFSI).

Bisa Berdampingan dengan Sistem Lama

Mekari Officeless dirancang tidak menuntut perusahaan mengganti sistem yang sudah berjalan. Pengguna masuk melalui Mekari Account, dan platform terhubung dengan data produk Mekari lewat Mekari Data Connection. Alur kerja juga dapat dipicu dari Mekari Qontak.

Perusahaan yang sudah memakai sistem ERP dapat memperluas kapabilitasnya tanpa migrasi penuh. Dari sisi kepatuhan, Mekari terdaftar sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) di Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) serta memegang sertifikasi ISO/IEC 27001:2022 dan ISO/IEC 27701:2025.

Rencana pengembangan ke depan menyasar perusahaan enterprise, termasuk industri yang diatur ketat. Mekari menyarankan perusahaan yang ingin memulai mengambil satu proses yang paling memakan waktu, dengan aturan akses dan persetujuan yang jelas sejak hari pertama.

Reporter: Yasir
Sumber: beritakota.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top