SULAWESI BARAT — Sutradara Korea Selatan Kim Sung-soo mengumumkan film pendek terbarunya, Worm Train, yang digarap menggunakan alat AI Kling dan dipresentasikan di panel Asian Contents & Film Market (ACFM) Busan. Film ini terinspirasi dari cerita pendek Franz Kafka, Metamorphosis, dan menceritakan seekor cacing raksasa yang pergi bekerja dengan kereta bawah tanah. Kim, yang sebelumnya menyutradarai Asura: The City of Madness dan 12.12: The Day, menegaskan teknologi tidak menggantikan kreativitas manusia.
Kim Sung-soo bukan nama baru di industri perfilman Korea Selatan. Ia dikenal lewat sejumlah blockbuster seperti Asura: The City of Madness dan 12.12: The Day. Kini ia membawa proyek eksperimental berjudul Worm Train ke hadapan publik industri di Busan.
Film pendek itu dipresentasikan dalam panel bertajuk New Cinematic Possibilities: Reimagining Filmmaking with Kling AI, bagian dari InnoAsia track di ACFM yang berlangsung hingga 13 Oktober. Kling AI sendiri baru saja merilis model generasi gambar versi 4.0.
Worm Train berangkat dari cerita pendek Franz Kafka, Metamorphosis. Dalam versi Kim, tokoh utamanya berubah menjadi cacing raksasa yang tetap harus berangkat kerja menggunakan kereta bawah tanah. Sebuah teaser film pendek tersebut ditayangkan di hadapan peserta panel.
Kim mengaku AI telah mengubah cara ia berpikir tentang pembuatan film. Namun ada satu hal yang menurutnya tidak pernah berubah. "One thing never changes, which is what makes a film cinematic," ujarnya.
Ia juga menyoroti akses teknologi yang kini merata. "Now everyone has similar tools and anyone can access Kling, but while some will make a masterpiece, others will make a film that is mediocre," kata Kim. "Initially, I thought AI would destroy the industry, but I don't think so any more, because technology does not replace creativity. The value of images still comes from human intervention."
Harry Hyun, sutradara sekaligus CEO MooAm Co, menyampaikan pandangan senada. Ia telah menghasilkan sejumlah film berbasis AI seperti Crypto Man dan Genfluencer. Menurutnya, perbedaan utama produksi AI dan tradisional terletak pada efisiensi dan kesederhanaan proses.
"If you don't have experienced filmmakers on set, everything can end up looking the same," kata Hyun. "That's why AI images may look impressive at first, but not later, because everyone is using the same lighting, same everything."
Ia menekankan pentingnya kehadiran art director, sutradara, dan sinematografer berpengalaman. Keputusan soal kapan memakai close shot atau wide shot, serta bagaimana membingkai gambar, bukan hal acak. "Only when you're working with experts will you be able to create something different with AI, not just cookie cutter deliverables," ujarnya.
Animator Tiongkok Li Wei, yang sedang menggarap film animasi Born of The Tide dengan alat Kling AI, melihat sisi praktis dari teknologi ini. Hasil bisa langsung dilihat sehingga umpan balik dari anggota kru lebih mudah didapat.
"There's going to be a lot of trial and error in AI filmmaking, but effective communication can be used between the various production members, so everyone has a chance to feed back into the production," kata Li.
Sementara itu, Lee Sang-wook dari MBC C&I AI Contents Lab mempresentasikan teaser serial Rendering Love. Serial produksi MBC C&I dan Barunson E&A itu menggabungkan adegan live-action yang direkam secara tradisional dengan karakter hasil AI, mengangkat kisah grup K-pop virtual.
Lee mencatat munculnya peran dan cara kerja baru dalam kru produksi AI. "All staff members working on a project must fully understand the technology. That's the only way to have high quality content," katanya. Ia menambahkan, ketika model diperbarui, pemimpin tim perlu menganalisis fitur baru dan membagikan pemahaman itu ke seluruh staf.
Para pembicara juga membahas kemungkinan penerapan standar industri untuk pembuatan film dengan AI. Kim menilai wacana itu masih terlalu dini, setidaknya di Korea Selatan. Menurutnya, kreator Korea punya gagasan dan imajinasi sendiri yang ingin mereka keluarkan lewat alat AI.
"We need to see where all this is heading before we start talking about regulations and standards," ujar Kim. Meski begitu, ia mengaku selalu memikirkan potensi pelanggaran hak cipta. Hal itu menurutnya harus disadari sejak tahap awal produksi.
Panel Kling AI di ACFM Busan ini memperlihatkan satu hal: adopsi AI di industri film Asia semakin nyata, tetapi standar etika dan estetika produksinya masih dalam proses pencarian bentuk.