SULAWESI BARAT — Sebanyak 498 siswa di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, menjalani pemeriksaan setelah diduga keracunan makanan bergizi gratis (MBG) dari dapur SPPG Kecamatan Bawang. Badan Gizi Nasional menemukan telur yang diolah sejak pukul 19.30 WIB dan hanya dipanaskan ulang pukul 02.30 WIB. Berikut kronologi dan langkah penanganannya.
Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, resmi dihentikan sementara dengan kategori suspend berat. Kepala SPPG juga dicopot dari jabatannya setelah BGN menemukan sejumlah pelanggaran prosedur.
Temuan awal menyoroti proses pengolahan telur yang dimasak sejak malam dan baru dipanaskan kembali dini hari. Kondisi kebersihan beberapa bagian dapur juga jadi catatan pemeriksaan.
Deputi Pemantauan dan Pengawasan BGN, Ketut Sumedana, mengungkap bahwa telur untuk menu MBG telah diolah sejak pukul 19.30 WIB. Telur itu baru dipanaskan kembali pada pukul 02.30 WIB sebelum didistribusikan ke penerima manfaat.
Jeda waktu selama itu dinilai melanggar standar operasional prosedur (SOP) keamanan pangan. BGN menyebut temuan ini sebagai salah satu bentuk ketidakpatuhan yang ditemukan di dapur SPPG Bawang.
Meski menemukan sejumlah pelanggaran, BGN belum menyimpulkan penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami ratusan siswa. Investigasi masih menelusuri seluruh rantai proses, dari penerimaan bahan baku hingga distribusi.
"Kami sedang menelusuri seluruh proses, mulai dari penerimaan bahan baku, pengolahan, penyimpanan, pemorsian hingga distribusi. Kami tidak ingin berspekulasi mengenai penyebab kejadian sebelum seluruh pemeriksaan selesai," ujar Ketut Sumedana, Kamis (24/9), dikutip dari laman resmi BGN.
BGN juga mencatat adanya makanan yang dibawa pulang oleh penerima manfaat. Menurut BGN, tindakan itu termasuk pelanggaran berat yang turut jadi dasar penghentian operasional dapur.
Hingga Jumat (25/9/2026), tercatat 498 orang menjalani pemeriksaan. Sebanyak 159 dirujuk, 319 rawat jalan, dan 20 rawat inap di Puskesmas Batang.
Di RSUD Kalisari Batang, 90 pasien menjalani pemeriksaan dan perawatan selama Rabu (23/9) hingga Jumat (25/9). Sebanyak 28 orang sudah diperbolehkan pulang, sementara 62 masih dirawat.
"Terperiksa itu 498. Dirujuk 159, rawat jalan 319, rawat inap Puskesmas Batang 20. Nah, yang hari ini di Rumah Sakit Batang itu ada 90. Sudah pulang 28, tinggal 62," kata Wakil Bupati Batang, Suyono, dikutip dari detikJateng.
BGN masih berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Batang, fasilitas kesehatan, dan Tim Satgas MBG setempat. Fokusnya menangani penerima manfaat sekaligus mengusut penyebab kejadian.
Hasil investigasi akan jadi dasar penentuan tindakan selanjutnya terhadap SPPG Bawang. Jika ditemukan pelanggaran terhadap standar keamanan pangan, BGN akan menerapkan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku.
Kasus ini jadi pengingat bahwa keamanan pangan bukan hanya soal gizi seimbang, tapi juga cara pengolahan dan waktu penyajian. Makanan yang dimasak jauh sebelum disajikan berisiko terkontaminasi bakteri jika tidak disimpan di suhu yang tepat.
Jika anak menunjukkan gejala mual, muntah, diare, atau lemas setelah mengonsumsi makanan tertentu, segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat. Catat waktu dan jenis makanan yang dikonsumsi untuk membantu tenaga medis menelusuri penyebabnya.
Pengawasan dapur MBG kini jadi sorotan setelah insiden Batang. Bagi orang tua, memantau kondisi anak usai makan dan melaporkan gejala tak biasa ke sekolah atau penyelenggara program adalah langkah kecil yang berdampak besar.