SULAWESI BARAT — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik melemah 1,02% ke level 6.320,07 pada perdagangan pukul 11.22 WIB, setelah sempat menyentuh 6.423,83 di awal sesi. Tekanan datang dari kombinasi pelemahan rupiah ke Rp17.902 per dolar AS, harga minyak Brent di atas US$100 per barel, dan kebijakan BEI menghapus batas harga minimum saham dari Rp50 menjadi Rp1 mulai 28 September 2026.
Indeks sempat anjlok ke level terendah intraday 6.277,68 sebelum bertahan di sekitar 6.320. Pelemahan terjadi setelah IHSG membuka perdagangan di zona hijau, mencerminkan perubahan sentimen yang cepat dalam satu sesi.
Riset BRI Danareksa Sekuritas menyebut pelaku pasar sedang menanti hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 22-23 September. Perhatian tidak hanya pada keputusan BI-Rate, tetapi juga arah kebijakan stabilisasi rupiah dan ruang pelonggaran moneter yang tersisa.
Kurs transaksi BI per 22 September tercatat Rp17.902 per dolar AS. Tekanan ini berbarengan dengan harga minyak mentah Brent yang kembali menembus US$100,57 per barel — kombinasi yang secara historis membebani pasar saham negara importir minyak seperti Indonesia.
"Kombinasi oil dan rupiah tetap menjadi perhatian IHSG," tulis riset BRI Danareksa Sekuritas.
MNC Sekuritas menambahkan bahwa pasar juga menanti arah kebijakan bank sentral lain. ECB, The Fed, dan BoJ disebut masih dalam mode pengetatan, membatasi ruang gerak BI untuk melonggarkan kebijakan.
Kebijakan BEI menghapus batas minimum harga saham dari Rp50 menjadi Rp1 mulai 28 September 2026 menjadi pemicu negatif tersendiri. Riset BRI Danareksa mencatat ada 46 saham yang saat ini berada tepat di level Rp50 dan berpotensi turun lebih dalam setelah aturan berlaku.
"Perubahan ini terutama berdampak pada saham berharga rendah; 46 saham yang saat ini berada di Rp50 akan memiliki ruang perdagangan di bawah level tersebut," tulis riset tersebut.
Kebijakan ini mengubah struktur mikro pasar, terutama bagi emiten kecil yang selama ini bertahan di harga minimum. Bagi investor ritel, risiko penurunan nilai portofolio di segmen saham lapis tiga meningkat.
Dari sisi teknikal, MNC Sekuritas menyebut area 6.290 sekaligus MA60 sudah tercapai. Support berikutnya berada di 6.279.
"Apabila break maka IHSG akan mengarah ke 6.186-6.201 sekaligus menutup gap-nya," ungkap riset MNC Sekuritas.
Eskalasi geopolitik Rusia-Ukraina, rencana perundingan AS-Iran, dan kunjungan kontingen China ke AS turut menjadi perhatian pasar. Harga minyak mentah terpantau bergerak di rentang US$92 hingga US$101 per barel.
Tekanan hari ini bersifat ganda: faktor eksternal berupa dolar kuat dan minyak tinggi, plus faktor domestik dari perubahan aturan perdagangan saham. Investor yang memegang saham di level Rp50 perlu mencermati likuiditas dan prospek fundamental emiten masing-masing menjelang 28 September.
Hasil RDG BI pada 23 September menjadi katalis terdekat. Jika BI memberi sinyal ruang pelonggaran lebih besar, pasar berpotensi menemukan titik stabil. Sebaliknya, penekanan pada stabilitas kurs tanpa sinyal pelonggaran bisa menahan IHSG di area support 6.279.