MAMUJU — Junda Maulana menilai kehadiran fisik sesuai jadwal pagi hingga sore bukan ukuran pengabdian seorang aparatur. Menurutnya, ASN dituntut memberi lebih dari sekadar menjalankan tugas harian yang memang sudah menjadi konsekuensi jabatannya.
Pernyataan itu disampaikan Junda ketika memimpin apel virtual dari Majene. Momentum Hari Jadi Sulawesi Barat ke-20 dipakai Sekda untuk mengevaluasi kinerja seluruh perangkat daerah di lingkup Pemprov Sulbar.
Mengapa Jam Kantor 07.30–16.00 Dinilai Belum Cukup
Junda membedakan antara menjalankan kewajiban rutin dan mengabdi. Baginya, pengabdian menuntut kemauan bekerja di luar standar yang berlaku.
"Kalau kita sebagai ASN hanya menjalankan tugas kita sehari-hari, itu belum dikatakan mengabdi atau belum dikatakan berdedikasi. Kenapa? Karena memang itu menjadi tugas kita sebagai konsekuensi kita diangkat sebagai Aparatur Sipil Negara," tegas Junda.
Ia lalu menyoroti pola kerja yang berhenti tepat saat jam pulang. Menurut Junda, masuk pukul 07.30 dan pulang pukul 16.00 belum bisa disebut mengabdi.
"Tapi sebagai ASN, kita dituntut untuk mengabdi. Mengabdi berarti menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya, dengan sesungguh-sungguhnya, dengan kemauan yang luar biasa di luar standar-standar yang ada," tambahnya.
Tema Hari Jadi ke-20 Diminta Tak Berhenti Jadi Slogan
Junda menyoroti tema "Mengabdi dan Berkarya Bersama Menuju Sulawesi Barat Maju dan Sejahtera". Ia meminta tema itu tidak dimaknai sebagai rangkaian kegiatan seremonial semata.
Semangat tersebut, katanya, harus diterjemahkan lewat kinerja nyata dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. Instansi diminta bekerja efisien dan tidak berjalan sendiri-sendiri.
Persoalan pembangunan daerah butuh kolaborasi lintas sektor. Junda mengimbau seluruh perangkat daerah mengikis ego sektoral agar masalah bisa ditangani lebih komprehensif.
PDRB Naik, Kemiskinan Turun, IPM Masih Jadi Pekerjaan Rumah
Dalam apel itu, Junda memaparkan sejumlah indikator pembangunan Sulbar sejak provinsi ini berdiri. Produk Domestik Regional Bruto tercatat meningkat dari Rp 4,45 triliun sebelum 2004 menjadi Rp 54,65 triliun.
Angka kemiskinan yang sebelumnya berada di kisaran 20 persen disebut telah ditekan hingga sekitar 10 persen. Indeks Pembangunan Manusia naik dari 58 poin menjadi 71 poin.
Sulbar juga mencatat tingkat pengangguran terendah dan meraih penghargaan kinerja penurunan pengangguran peringkat pertama di Region Sulawesi dari Kementerian Dalam Negeri.
Meski begitu, Junda mengakui masih ada pekerjaan rumah. Peningkatan IPM dan pengentasan kemiskinan perlu digenjot agar Sulbar sejajar dengan rata-rata nasional.
Ajakan Menjaga Kekompakan di Lingkup Pemprov
Junda meminta ASN tidak kehilangan kepercayaan diri dan tetap menjaga kekompakan dalam menjalankan tugas pemerintahan.
"Saya sebagai pimpinan tertinggi ASN di Provinsi Sulawesi Barat itu mengajak kepada kita semua, kalau bukan kita yang kompak, lalu siapa lagi? Saya mengajak kepada seluruh ASN, ayo tingkatkan kinerja kita, tingkatkan semangat kita untuk memberikan pengabdian kepada masyarakat pada umumnya dan khususnya bagi Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat," pungkasnya.