MAMUJU — Rekapitulasi Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Sulbar mencatat 519 kejadian kebakaran tersebar di enam kabupaten. Kabupaten Majene justru memimpin jumlah kejadian dengan 172 kali, tetapi luas lahan terbakar di sana hanya 161,14 hektare.
Angka itu jauh di bawah Polman yang mencatat 145 kejadian namun luas terbakar mencapai 559,92 hektare. Sisanya tersebar di Mamuju Tengah 84 kejadian, Mamasa 57 kejadian, Mamuju 52 kejadian, dan Pasangkayu 9 kejadian.
Selisih luas lahan terbakar antara Majene dan Polman mencapai hampir 400 hektare. Kondisi ini menjadikan Polman wilayah dengan dampak karhutla terluas di Sulbar selama periode Januari–16 Oktober 2026.
Kepala Pelaksana BPBD Sulbar Muhammad Yasir Fattah menyatakan pemantauan dan pembaruan data terus dilakukan untuk mendukung koordinasi lintas sektor. Menurut dia, kecepatan penanganan bergantung pada koordinasi antarwilayah.
"Pusdalops terus memantau perkembangan situasi dan memperbarui informasi dari kabupaten. Kami mendorong agar penanganan kebakaran di wilayah yang masih dalam proses pemadaman dilakukan secara terkoordinasi," kata Yasir dalam keterangannya.
Selain karhutla, BPBD Sulbar mencatat 88 kejadian kebakaran permukiman yang berdampak pada 165 unit bangunan. Data dampak kawasan hutan mencapai 441,12 hektare dan masih dalam proses validasi di sejumlah wilayah.
Kekeringan turut melanda sebagian daerah di Sulbar bersamaan dengan musim kebakaran. BPBD Sulbar menyalurkan air bersih dengan total distribusi tercatat 3.921.783 liter ke warga terdampak.
Mamuju Tengah menjadi penerima distribusi terbesar dengan 2.021.033 liter, disusul Pasangkayu 802.300 liter, Mamuju 459.450 liter, Majene 355.000 liter, dan Polman 284.000 liter. Data distribusi untuk Kabupaten Mamasa masih dalam proses validasi.
Yasir menegaskan penanganan karhutla dan kekeringan dilakukan secara terpadu. Langkahnya mulai dari pemantauan titik panas, patroli, pemadaman api, hingga pemenuhan kebutuhan air bersih bagi warga terdampak.
Upaya tersebut mengikuti arahan Gubernur Sulbar Suhardi Duka dan Sekretaris Daerah Sulbar Junda Maulana. Keduanya meminta kesiapsiagaan diperkuat dan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi.
BPBD Sulbar mengimbau seluruh pihak meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran dan dampak kekeringan. Koordinasi diminta dioptimalkan agar penanganan di wilayah terdampak berjalan lebih cepat.