Studi Peringatkan Jamur TR4 Ancam Kepunahan Pisang Dunia, Indonesia Jadi Asal Muasal

Penulis: Sutomo  •  Minggu, 11 Oktober 2026 | 19:17:31 WIB
Jamur TR4 menyebar dari Asia Tenggara dan mengancam 47% produksi pisang dunia.

SULAWESI BARAT — Jamur Fusarium oxysporum f. sp. cubense Tropical Race 4 (TR4) dilaporkan terus menyebar dari Asia Tenggara ke Timur Tengah, Afrika, dan Australia, mengancam 47% produksi pisang dunia yang bergantung pada varietas Cavendish. Penelitian yang diterbitkan jurnal PLOS Pathogens menyebut Indonesia sebagai titik awal kemunculan galur jamur ini pada 1960-an. Para peneliti menyerukan investasi besar untuk pemuliaan varietas tahan penyakit dan karantina tanah yang lebih ketat.

Penyakit yang menyerang sistem pembuluh tanaman pisang ini tidak bisa dibasmi dengan fungisida. Jamur TR4 masuk melalui akar, menyebar ke seluruh jaringan, lalu mematikan tanaman lewat dehidrasi. Sejak 1990-an, TR4 sudah memusnahkan perkebunan Cavendish di Indonesia dan Malaysia.

Antara 1997 dan 1999, wabah yang sama secara signifikan menekan industri pisang di dekat Darwin, Wilayah Utara Australia. Kini penyebarannya meluas ke Timur Tengah dan Afrika, mengikuti jalur perdagangan bibit dan perpindahan tanah terkontaminasi.

Bukan Kali Pertama Pisang Hampir Punah

Pada 1950-an, hampir seluruh populasi pisang Gros Michel — varietas utama yang dibudidayakan saat itu — musnah akibat penyakit Panama yang disebabkan Fusarium oxysporum. Cavendish kemudian diperkenalkan sebagai pengganti karena dianggap tahan terhadap patogen tersebut.

Cavendish kini menguasai 47% total produksi pisang dunia. Sebagian besar pisang yang dijual di wilayah beriklim sedang adalah jenis ini. Masalahnya, Cavendish dan Gros Michel sama-sama dikembangkan lewat kloning, sehingga seluruh tanaman memiliki susunan genetik identik.

Kalau satu tanaman terserang, tanaman lain di kebun yang sama hampir pasti ikut terdampak. Tidak ada keragaman genetik yang bisa menjadi benteng alami terhadap jamur.

Mengapa TR4 Sulit Dihentikan

TR4 adalah galur berbeda dari Fusarium oxysporum penyebab penyakit Panama. Jamur ini bisa bertahan di dalam tanah selama bertahun-tahun tanpa inang, membuat rotasi tanaman tidak efektif. Sporanya menempel pada alat pertanian, sepatu pekerja, dan air irigasi.

Upaya karantina tanah dan pemusnahan tanaman terinfeksi yang dilakukan sejauh ini dinilai tidak memadai. Peneliti menyatakan belum ada cara yang ditemukan untuk menghentikan penyebaran penyakit ini selama varietas rentan masih dibudidayakan.

"Wabah TR4 saat ini dan perhatian global yang menyertainya harus menjadi peringatan bagi perlunya perubahan strategi yang sangat penting ini," tulis para peneliti dalam makalah PLOS Pathogens tersebut.

Dampak ke Petani Kecil dan Pasar Lokal

Sebagian besar produksi pisang dunia berasal dari perkebunan rakyat berskala kecil. Sekitar 85% hasil panen disalurkan ke pasar lokal, bukan pasar ekspor. Artinya, kegagalan panen berdampak langsung pada pendapatan harian jutaan petani.

Di Indonesia, pisang bukan sekadar komoditas ekspor. Buah ini menjadi sumber karbohidrat alternatif dan bahan baku industri keripik serta olahan pangan rumahan. Penurunan produksi berpotensi menaikkan harga di tingkat konsumen.

Para peneliti memperkirakan penyakit ini akan terus menyebar selama varietas pisang yang rentan masih ditanam secara monokultur. Investasi pada pemuliaan varietas baru dan penguatan sistem karantina menjadi dua langkah yang paling mendesak.

Studi tersebut tidak menyimpulkan terjadinya "kiamat pisang" dalam waktu dekat. Namun tanpa perubahan strategi budidaya, industri pisang global menghadapi risiko kehilangan varietas utama yang menopang pasokan dunia saat ini.

Reporter: Sutomo
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top