SULAWESI BARAT — Dokter anak Indonesia mengingatkan bahwa kebiasaan main gawai tanpa batas bukan sekadar soal mata lelah atau kuota internet. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) membeberkan lima dampak serius yang mengintai, mulai dari obesitas, gangguan tumbuh kembang, kecanduan, cyberbullying, hingga masalah kesehatan mental. Simak penjelasannya agar ibu bisa menyiapkan langkah pencegahan yang tepat di rumah.
Perhatian terhadap penggunaan gawai pada anak semakin menguat setelah Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) menerapkan Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak, atau yang dikenal sebagai PP Tunas. Regulasi ini membatasi akses media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun.
Dokter Anak sekaligus Ahli Tumbuh Kembang Pediatri Sosial, Dr dr Bernie Endyarni Medise, Sp.A(K), menyambut baik langkah tersebut. Menurutnya, penggunaan gawai dan media sosial yang tidak terkontrol bisa menimbulkan berbagai dampak buruk bagi tumbuh kembang anak.
Anak yang terlalu lama menatap layar cenderung lebih banyak menghabiskan waktu dalam kondisi kurang bergerak atau sedentary life. Kebiasaan ini meningkatkan risiko berat badan berlebih dan obesitas.
Dalam jangka panjang, obesitas pada anak dapat memicu berbagai penyakit serius, seperti hipertensi dan diabetes. "Kalau kebanyakan ada sedentary life, akhirnya yang disebut dengan obesitas atau overweight. Ujung-ujungnya hipertensi, diabetes, dan lain sebagainya," ujar Bernie di Kantor Komdigi.
Screen time berlebihan, terutama pada anak usia dini, mengurangi kesempatan mereka berinteraksi langsung dengan keluarga dan lingkungan sekitar. Padahal, interaksi tatap muka inilah yang dibutuhkan anak untuk belajar berbicara dan bersosialisasi.
"Yang kedua, perkembangan. Andaikata kita berikan pada usia dini, di mana seharusnya dia belajar tentang keluarganya, belajar bagaimana dia berbicara, itu habis waktunya pada screen time yang hanya satu arah," kata Bernie.
Akibatnya, anak yang terlalu banyak terpapar layar sering mengalami hambatan perkembangan, baik dari sisi bahasa maupun sosial-emosional.
Aktivitas digital yang dilakukan berulang kali dan terasa menyenangkan memicu pelepasan neurotransmitter dopamin. Kondisi ini membuat anak semakin sulit lepas dari layar dan terus ingin mengulangi aktivitas yang sama.
"Karena screen time atau apa pun itu yang selalu dilakukan berulang-ulang dan sifatnya seperti menyenangkan ya, akhirnya ini yang disebut dengan dopamin, neurotransmitter dopaminnya ini yang keluar dan ini menyebabkan adiksi," jelas Bernie.
Pada anak usia sekolah dan remaja, media sosial membawa risiko perundungan siber atau cyberbullying. Interaksi di ruang digital membuat anak terpapar berbagai bentuk perundungan yang berpotensi memengaruhi kondisi psikologis mereka.
Cyberbullying yang dialami anak dapat berlanjut menjadi persoalan kesehatan mental. Tekanan dan pengalaman negatif di ruang digital dinilai dapat mengganggu kondisi psikologis anak dan remaja.
"Dan yang keempat yang kita takutkan juga pada anak-anak usia sekolah, kemudian usia remaja, adalah cyberbullying. Kemudian yang terakhir, adanya cyberbullying ini ujung-ujungnya juga adalah mental health. Jadi kesehatan mental anak juga bisa terganggu," ucap Bernie.
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan: anak sulit lepas dari gawai meski sudah diminta, kehilangan minat bermain di luar, mengalami penurunan prestasi sekolah, atau menunjukkan perubahan suasana hati setelah bermain media sosial. Jika tanda-tanda ini muncul, sebaiknya konsultasikan dengan dokter anak atau psikolog anak untuk pendampingan lebih lanjut.
Pembatasan penggunaan gawai dan media sosial perlu diikuti pengawasan orang tua serta pendampingan sesuai usia anak. Tujuannya agar teknologi tetap bermanfaat tanpa mengganggu aktivitas fisik, interaksi sosial, dan proses tumbuh kembang anak.