SULAWESI BARAT — BYD memutuskan menjual Racco di Sri Lanka dan Makau, membalik pernyataan Juli lalu yang menyebut mobil listrik mungil itu eksklusif untuk Jepang. Makau sudah membuka pemesanan awal, sementara distributor John Keells CG Auto (JKCG Auto) menyatakan peluncuran di Sri Lanka segera digelar. Harga resmi di kedua pasar belum diumumkan hingga Senin (5/10/2026), sehingga patokan yang tersedia masih mengacu ke banderol Jepang.
Keputusan memperluas pasar Racco muncul hanya beberapa bulan setelah BYD menegaskan model berbasis kei car itu tidak akan dijual di luar Jepang. Dua pasar baru yang dikonfirmasi adalah Makau, yang sudah menerima pemesanan awal, dan Sri Lanka lewat JKCG Auto. Belum ada keterangan resmi soal kemungkinan masuk Indonesia.
Karena harga di Makau dan Sri Lanka belum dipublikasikan, acuan yang dipakai pasar adalah banderol di Jepang. Tiga varian tersedia dengan rentang harga berbeda.
Seluruh unit dirakit di Changzhou, China, lalu diekspor ke pasar tujuan.
Racco memakai motor listrik 47 kW atau setara 63 hp dengan torsi 160 Nm dan penggerak roda depan. Dua opsi baterai LFP Blade disediakan, masing-masing 22,4 kWh untuk jarak 210 km dan 35,84 kWh untuk 320 km.
Dimensinya 3.395 x 1.475 x 1.800 mm dengan jarak sumbu roda 2.520 mm. Radius putar 4,8 meter, kapasitas bagasi 280-1.372 liter, dan bobot 1.160-1.230 kg. Pintu geser elektrik tersedia, begitu pula garansi baterai 8 tahun atau 160.000 km.
Di atas kertas, Racco lebih murah daripada Nissan Sakura yang dibanderol ¥2.448.600 atau sekitar Rp267,7 juta. Persoalannya, pemerintah Jepang hanya memberi subsidi ¥150.000 (Rp16,4 juta) untuk Racco, sedangkan Sakura mendapat ¥580.000 (Rp63,4 juta).
Hitungan akhirnya berbalik. Sakura dijual efektif ¥1.868.600 (Rp204,3 juta), lebih murah ¥126.400 (Rp13,8 juta) dibanding Racco yang menjadi ¥1.995.000 (Rp218,1 juta). Selisih subsidi jadi faktor penentu, bukan sekadar angka di brosur.
Serapan Racco di Jepang belum sesuai harapan. Hingga 9 Agustus, BYD mengantongi 1.002 pesanan, lalu menembus lebih dari 1.500 unit dalam kurang dari dua bulan. Varian Premium mendominasi dengan porsi 80 persen.
Angka itu baru sekitar 15 persen dari target 10.000 pesanan hingga akhir 2026. Sepanjang 2023 sampai akhir 2025, BYD tercatat hanya menjual sedikit di atas 7.400 mobil di Jepang.
Ekspansi ke Sri Lanka dan Makau menunjukkan BYD fleksibel soal pasar Racco, meski belum ada sinyal resmi soal Indonesia. Segmen kei car listrik di Tanah Air masih sangat kecil dan belum punya kerangka insentif khusus seperti di Jepang.
Kalau Racco benar masuk, harganya kemungkinan besar tidak akan menyentuh level Jepang karena bea masuk dan pajak kendaraan listrik CBU berbeda. Sampai ada pengumuman resmi dari ATPM, status Racco di Indonesia masih sebatas kemungkinan.