SULAWESI BARAT — Lebih dari dua pertiga bidan dan dokter di lima benua melaporkan pernah menangani komplikasi kehamilan yang mereka kaitkan dengan paparan panas ekstrem. Mulai dari kelahiran prematur hingga berat badan lahir rendah, ini yang perlu ibu hamil waspadai saat suhu udara terus memecahkan rekor.
Survei terhadap 1.000 bidan dan dokter di Inggris, Australia, India, Brasil, dan Zimbabwe mengungkap hampir seluruh responden pernah menangani ibu atau bayi yang terdampak panas ekstrem. Sekitar sepertiga di antaranya bahkan melihat langsung kasus berat badan lahir rendah, pertumbuhan janin terhambat, kesulitan menyusu, dehidrasi, sampai penyakit yang berkaitan dengan suhu panas.
Peringatan ini disampaikan Kepala Badan Perubahan Iklim PBB Simon Stiell dalam pertemuan pre-COP di Nadi, Fiji. Menurutnya, dampak perubahan iklim terhadap kehamilan bukan lagi ancaman masa depan yang bisa ditunda penanganannya.
Selama kehamilan, suhu tubuh ibu secara alami lebih tinggi dan jantung bekerja lebih keras untuk memasok darah ke janin. Paparan panas ekstrem menambah beban itu. Tubuh harus berjuang menjaga suhu inti tetap stabil, sementara volume darah yang harus dipompa terus meningkat.
Kondisi inilah yang membuat ibu hamil lebih cepat mengalami dehidrasi dan kelelahan dibandingkan orang dewasa lain. Dalam jangka panjang, paparan panas berulang dikaitkan dengan risiko kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah.
Dari survei lima benua tersebut, beberapa dampak yang paling sering dilaporkan tenaga kesehatan antara lain:
Stiell menyebut gambaran ini sangat mengkhawatirkan. "Naiknya suhu berarti meningkatnya bahaya dalam kehamilan," katanya, dikutip dari AFP.
Rekor suhu panas memang semakin sering terpecahkan dalam beberapa tahun terakhir. Para ilmuwan sebelumnya sudah memperingatkan bahwa perubahan iklim membuat kejadian cuaca ekstrem jadi lebih intens, termasuk gelombang panas yang lebih panjang dan lebih panas.
Stiell menegaskan kehamilan dan persalinan kini menjadi titik rawan baru dalam krisis iklim global. "Gambarnya jelas dan sangat mengkhawatirkan. Ketika panas ekstrem semakin parah, kehamilan dan persalinan kini menjadi titik rawan baru dalam krisis iklim global, yang berpotensi mematikan," ujarnya.
Ia menambahkan, kehamilan seharusnya jadi masa penuh harapan. Namun bagi jutaan perempuan, kondisi tersebut kini justru dipenuhi kecemasan akibat risiko yang dipicu perubahan iklim.
Meski risiko ini nyata, ada langkah sederhana yang bisa membantu mengurangi paparan panas selama kehamilan. Minum air lebih banyak dari biasanya, hindari aktivitas luar ruangan pada jam 10 pagi hingga 4 sore, dan pilih pakaian longgar berbahan katun.
Kalau rumah tidak punya pendingin ruangan, cari tempat sejuk seperti pusat perbelanjaan, perpustakaan, atau rumah kerabat saat suhu sedang memuncak. Kenali juga tanda dehidrasi seperti pusing, urine berwarna gelap, dan mulut kering.
Segera hubungi bidan atau dokter kandungan jika ibu mengalami kontraksi sebelum waktunya, perdarahan, gerakan janin berkurang, atau pusing hebat yang tidak membaik setelah minum dan beristirahat. Jangan tunda pemeriksaan hanya karena ingin menunggu cuaca lebih sejuk.
Panas ekstrem selama kehamilan bukan hal yang bisa diabaikan begitu saja. Dengan mengenali risikonya dan mengambil langkah pencegahan sederhana, ibu bisa menjaga diri dan janin tetap aman di tengah suhu yang semakin sulit diprediksi.