SULAWESI BARAT — PT Aneka Tambang Tbk (Antam) menaikkan harga perak batangan dan butiran sebesar Rp 500 menjadi Rp 41.300 per gram pada perdagangan Rabu (30/9/2026), berbanding terbalik dengan harga perak dunia yang merosot 0,67% ke US$ 61,04 per ons. Kenaikan harga jual Antam terjadi di tengah tekanan global dari imbal hasil obligasi AS yang menembus level tertinggi sejak 2002. Bagi investor ritel, selisih arah ini menjadi sinyal bahwa pasar logam mulia domestik belum sepenuhnya mengikuti gejolak eksternal.
Paragraf pembuka: Harga perak Antam naik mengikuti pergerakan harga emas Antam, meski pasar global justru menekan harga perak dunia. Mengutip laman logammulia.com, harga perak Antam hari ini naik Rp 500 menjadi Rp 41.300 dari perdagangan sebelumnya Rp 40.800. Antam menawarkan perak batangan 250 gram, 500 gram, dan perak butiran murni 99,95%.
Untuk perak batangan 250 gram, Antam menetapkan harga Rp 10.850.000. Sementara perak batangan 500 gram dijual Rp 20.775.000. Kenaikan harga jual ini terjadi saat harga perak dunia berada di kisaran US$ 61 per ons.
Mengutip tradingeconomics.com, harga perak dunia merosot 0,67% menjadi US$ 61,04 per ons. Pergerakan tersebut menghentikan penurunan baru-baru ini, ditopang harga minyak yang turun, meski tekanan dari imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat masih tinggi.
Imbal hasil obligasi AS tenor 30 tahun sempat melonjak hingga 5,62%, level tertinggi sejak Juni 2002. Kekhawatiran inflasi yang dipicu harga energi, ditambah pernyataan bernada hawkish dari pejabat Federal Reserve, mendorong kenaikan imbal hasil tersebut.
Presiden Federal Reserve New York, John Williams, pada Selasa menyatakan kenaikan suku bunga lanjutan pada "akhir tahun ini" mungkin tepat dilakukan. Ia mencatat konflik di Timur Tengah dan perkembangan kecerdasan buatan tetap menjadi faktor utama pendorong tingginya inflasi.
Perak diperkirakan mencatat penurunan hampir 8% sepanjang September. Harga minyak merosot tajam di tengah tanda-tanda membaiknya aliran energi dari Timur Tengah dan menyusul pelepasan cadangan darurat dalam jumlah besar lainnya di AS.
Harga emas menguat 1% pada perdagangan Selasa (29/9/2026). Namun harapan kebijakan moneter lebih ketat oleh The Fed yang didorong kekhawatiran inflasi menahan harga emas tetap berada di dekat level terendah dalam lebih dari tujuh minggu.
Mengutip CNBC, harga emas spot naik 1,1% menjadi US$ 4.157,39 per ons pada pukul 09.30 waktu setempat. Level terendah pada perdagangan Selasa di posisi US$ 4.112,97, sedikit di atas level terendah lebih dari tujuh bulan sebesar US$ 4.110,55 yang tercatat pada Senin pekan ini. Kontrak berjangka emas AS naik 0,5% menjadi US$ 4.189,60.
"Pergerakan hari ini hanyalah koreksi dari penurunan kemarin. Saya masih berpendapat ada hambatan yang cukup signifikan bagi emas saat ini," ujar Vice President dan Senior Metals Strategist Zaner Metals, Peter Grant.
Emas turun hampir 4% pada sesi sebelumnya dan berada di level terendah sejak 5 Agustus, tertekan penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil obligasi Treasury, harga energi, serta kekhawatiran inflasi yang memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga.
Nilai tukar dolar AS menguat dan menguji level tertinggi dalam beberapa bulan, didorong volatilitas harga minyak dan kenaikan pesat imbal hasil obligasi Treasury. Dolar yang lebih kuat membuat emas dan perak yang diperdagangkan dalam mata uang AS menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri.
Imbal hasil obligasi Treasury yang lebih tinggi juga meningkatkan biaya peluang untuk memegang logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil. Menurut FedWatch Tool dari CME, pasar memperkirakan probabilitas 70% untuk kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober dan peluang 95% pada Desember.
Para investor menantikan data ekonomi penting, termasuk data ketenagakerjaan ADP dan data PCE yang dijadwalkan rilis pada Rabu, serta data nonfarm payrolls pada Jumat.
Penutup: Kenaikan harga perak Antam menjadi Rp 41.300 per gram menunjukkan pasar domestik masih bergerak mengikuti harga emas Antam, bukan harga perak dunia. Bagi investor ritel, selisih arah ini perlu dicermati mengingat perak dunia diperkirakan turun hampir 8% sepanjang September dan masih tertekan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.