SULAWESI BARAT — Timnas Republik Irlandia mengalahkan Israel 3-0 pada laga UEFA Nations League di venue netral Hungaria, dalam pertandingan yang dibayangi tekanan politik dan ketegangan di luar lapangan. Kemenangan itu nyaris tidak terlaksana setelah gelombang protes di Irlandia menuntut FAI mundur dari laga, sementara tuduhan rasisme terhadap penyerang Adam Idah menambah panas situasi.
Laga yang digelar di Hungaria sesuai mandat keamanan UEFA tersebut berlangsung setelah serangkaian tekanan publik di Republik Irlandia. Politikus, kelompok masyarakat sipil, hingga pendukung menyerukan agar Football Association of Ireland (FAI) menolak bertanding sebagai bentuk protes atas konflik di Gaza. Tekanan itu akhirnya tidak menghentikan pertandingan, tetapi meninggalkan jejak panjang sepanjang 90 menit.
Pada malam menjelang pertandingan, kiper Gavin Bazunu memilih menarik diri dari skuad. Ia menyampaikan pernyataan yang berdasar pada keyakinan moralnya bahwa "pembunuhan terhadap orang tak bersalah adalah hal yang salah."
Keputusan Bazunu memicu rapat darurat skuad. Sesi latihan dan agenda media yang sudah dijadwalkan terpaksa dibatalkan. Menurut laporan The Irish Times, debat di ruang ganti berlangsung panas hingga Bazunu disebut menerima hinaan verbal dari salah satu rekan setimnya. Skuad kemudian menggelar pemungutan suara dan memutuskan tetap bermain.
Pelatih Heimir Hallgrimsson mengakui pekan tersebut sebagai salah satu yang paling berat dalam karier kepelatihannya.
Ketegangan antara kedua kubu terlihat jelas sebelum bola digulirkan. Skuad Irlandia secara kolektif menolak melakukan jabat tangan dengan pemain Israel. Saat lagu kebangsaan Israel dikumandangkan, Hallgrimsson membalikkan badan sebagai gestur protes yang disengaja, sementara sejumlah pemain Irlandia menundukkan kepala.
Kedua tim mengenakan ban lengan hitam. Namun bagi Irlandia, gestur itu dipakai sebagai pesan penolakan, bukan sekadar tanda berkabung.
Di atas lapangan, Irlandia tampil dominan. Troy Parrott dan Adam Idah membawa Irlandia unggul dua gol lebih dulu, sebelum Jack Moylan menambah gol ketiga. Usai mencetak gol, Moylan melakukan selebrasi yang menyita perhatian: melepas ban lengan hitamnya dan menciumnya.
Banyak pihak menafsirkan gestur tersebut sebagai bentuk solidaritas terhadap korban di Gaza.
Suasana di luar penguasaan bola justru memanas. Gelandang Jayson Molumby memberi tahu perangkat pertandingan pada babak pertama setelah mendengar apa yang ia yakini sebagai suara cemoohan monyet dari sebagian pendukung Israel, yang diarahkan ke penyerang Irlandia Adam Idah.
Namun karena Molumby meminta ofisial untuk "mendengarkan" alih-alih secara eksplisit menyebut kata "rasisme", protokol anti-rasisme UEFA tidak resmi diaktifkan di lapangan. UEFA kemudian memastikan tidak akan membuka investigasi resmi akibat cacat prosedural itu. FAI saat ini tengah menelaah rekaman pertandingan untuk menyiapkan bukti independen kepada badan sepak bola Eropa tersebut.
Bek Irlandia Jake O'Brien terlihat terlibat adu mulut dengan pemain Israel terkait perilaku pendukung tersebut.
Ketegangan berlanjut setelah peluit akhir. Kapten Israel Manor Solomon mengkritik para pemain Irlandia dan menuding mereka melontarkan hinaan tidak menyenangkan selama 90 menit.
"Jika saya mengatakan apa yang benar-benar saya pikirkan tentang mereka, saya kemungkinan akan diskors," kata Solomon kepada wartawan. "Jelas mereka membenci kami. Kami juga tidak menyukai mereka. Mereka bisa memainkan semua trik mereka. Kami punya negara sepuluh kali lebih baik dari negara mereka, lebih kuat, negara yang luar biasa dengan orang-orang luar biasa. Kami bangga pada negara dan tentara kami."
Pelatih Israel Ran Ben Shimon mengakui timnya runtuh di bawah beban emosional pertandingan tersebut.
Dengan hasil ini, UEFA menghadapi tantangan tata kelola yang serius. Kedua negara dijadwalkan bertemu lagi di Serbia dengan status pertandingan tanpa penonton, menambah daftar laga yang berjalan di bawah bayang-bayang persoalan di luar lapangan.