Bisikan Desa Gringsing Pakai Virtual Production, Kolaborasi 3 Negara

Penulis: Saiful  •  Senin, 28 September 2026 | 16:50:01 WIB
Film horor Bisikan Desa Gringsing diperkenalkan melalui press screening yang digelar Mandela Pictures bersama OMG Studios.

SULAWESI BARAT — Film horor Bisikan Desa Gringsing resmi diperkenalkan lewat press screening yang digelar Mandela Pictures bersama Oceanus Media Global (OMG Studios). Film garapan Ivander Tedjasukmana ini disebut sebagai film panjang horor Indonesia pertama yang memakai teknologi virtual production, dengan kolaborasi talenta dari Indonesia, Singapura, dan Malaysia.

Press screening tersebut menjadi momen pertama bagi media menyaksikan perjalanan Hesti, tokoh utama yang diperankan Aghniny Haque, secara utuh di layar lebar. Sebelumnya, Mandela Pictures sudah merilis first look, poster, dan trailer film ini.

Premis: Pencarian Ayah yang Berujung Teror

Bisikan Desa Gringsing ditulis dan disutradarai Ivander Tedjasukmana. Ceritanya berpusat pada Hesti yang mendatangi Desa Gringsing untuk mencari ayahnya yang hilang.

Pencarian itu berubah menjadi teror setelah arwah Fatimah, diperankan Fatmah Nahdi, mengurung seluruh warga dan membunuh siapa pun yang berusaha keluar dari desa. Semakin dalam Hesti menelusuri jejak, semakin banyak rahasia yang tersingkap, termasuk yang berkaitan dengan trauma masa lalunya sendiri.

Teknologi Virtual Production di Balik Desa Gringsing

Sejumlah adegan Bisikan Desa Gringsing dikerjakan di LED volumetric stage. Teknologi ini memungkinkan lingkungan digital fotorealistik tampil secara real time di hadapan para pemain. Adegan lain dibangun di real set.

Dua pendekatan itu dipadukan untuk membentuk dunia Desa Gringsing, mulai dari jalanan berkabut, bangunan yang terasa mengancam, hingga rangkaian peristiwa supernatural. Pengambilan gambar di studio virtual production dilakukan lebih dulu, lalu berlanjut ke real set.

Detail ruang, tata cahaya, komposisi, dan pergerakan pemain dirancang presisi agar lingkungan digital dan fisik tetap terasa berada dalam satu semesta.

Kolaborasi Tiga Negara

Nick GC Tan, Founder dan CEO Oceanus Media Global (OMG Studios), menyebut film ini sebagai hasil kerja bersama talenta kreatif lintas negara.

"Bisikan Desa Gringsing menunjukkan bagaimana teknologi dapat memberikan hasil terbaik ketika digunakan untuk mendukung cerita. Dengan memadukan virtual production, real set, serta talenta kreatif dari Indonesia, Singapura, dan Malaysia, kami bersama-sama membangun Desa Gringsing sebagai satu dunia sinematik yang utuh. Kami bangga menjadi bagian dari kolaborasi ini dan tidak sabar untuk akhirnya membawa pengalaman Desa Gringsing kepada penonton di layar lebar," ujar Nick GC Tan.

Tantangan Menyatukan Dua Dunia

Perpindahan dari lingkungan virtual ke set nyata memengaruhi proses penyutradaraan dan permainan aktor. Ivander mengakui tantangan terbesarnya adalah membuat teknologi dan real set tidak terasa sebagai dua dunia berbeda saat menjadi satu film.

"Buat saya, tantangan menariknya justru bagaimana teknologi dan real set akhirnya tidak terasa sebagai dua dunia yang berbeda ketika menjadi satu film. Karena kami syuting di studio virtual production lebih dahulu, banyak hal harus sudah dipikirkan sejak awal agar ketika dilanjutkan di real set, visual, blocking, sampai atmosfernya tetap terasa menyambung. Teknologi memberi kami kemungkinan baru, tetapi pada akhirnya semuanya harus bekerja untuk membuat penonton percaya bahwa Desa Gringsing benar-benar satu tempat yang utuh," ujar Ivander Tedjasukmana.

Proses kreatifnya tidak bertumpu pada teknologi semata. Sinematografi, tata artistik, tata suara, musik, dan permainan para aktor bekerja bersama membangun Desa Gringsing sebagai dunia yang perlahan membawa cerita ke lapisan misteri berikutnya.

Lagu "Perjalanan Menawar Racun" karya Kunto Aji turut dihadirkan untuk melengkapi jalinan emosi cerita.

Harapan Produser

Manoj Samtani, Produser Mandela Pictures, menyebut filmnya kini sudah utuh dan siap diperlihatkan kepada penonton.

"Sejak awal kami ingin Bisikan Desa Gringsing menjadi pengalaman sinematik di mana penonton terus terlibat dengan ceritanya. Hesti datang ke desa Gringsing untuk mencari satu jawaban, tetapi perjalanannya justru membuka begitu banyak pertanyaan lain. Sekarang filmnya sudah utuh dan akhirnya bisa kami perlihatkan kepada teman-teman media. Kami berharap pengalaman mencari jawaban bersama Hesti inilah yang nantinya juga akan membuat penonton terus membicarakan film ini setelah keluar dari bioskop," ujar Manoj Samtani.

Dengan pendekatan produksi yang jarang dipakai film horor Indonesia, Bisikan Desa Gringsing menjadi uji coba penting bagi industri lokal dalam mengadopsi virtual production tanpa mengorbankan kekuatan cerita.

Reporter: Saiful
Sumber: kapanlagi.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top