Trump dan Xi Jinping Bahas Kerja Sama AI di Jamuan Kenegaraan

Penulis: Saiful  •  Sabtu, 26 September 2026 | 19:23:31 WIB
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping membahas kerja sama kecerdasan buatan dalam jamuan makan malam kenegaraan.

SULAWESI BARAT — Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping membahas kerja sama kecerdasan buatan dalam jamuan makan malam kenegaraan yang dihadiri sejumlah CEO teknologi terkemuka. Pertemuan ini menghasilkan kesepakatan untuk membuka dialog bilateral soal AI, termasuk pembahasan risiko dan manfaatnya. Langkah ini menandai upaya kedua negara mencari titik temu di tengah persaingan teknologi yang makin ketat.

Jamuan makan malam kenegaraan yang digelar Donald Trump untuk menyambut Xi Jinping dihadiri sejumlah nama besar industri teknologi. CEO Nvidia Jensen Huang dan istrinya Lori Huang, CEO SpaceX Elon Musk, CEO AMD Lisa Su, serta Chairman Apple Tim Cook masuk daftar tamu.

Tak hanya itu, CEO OpenAI Sam Altman, Presiden OpenAI Greg Brockman, co-founder Google Sergey Brin, CEO Meta Mark Zuckerberg, dan CEO Microsoft Satya Nadella juga hadir. Kehadiran mereka menegaskan bahwa agenda AI menjadi salah satu topik utama dalam pertemuan bilateral tersebut.

Isi Pembicaraan Trump dan Xi soal AI

Sebelum bertemu langsung dengan Xi, Trump mengunggah pernyataan di Truth Social yang menyebut kecerdasan super atau SI akan menjadi topik diskusi besar. Ia mengaku ingin membiarkan pembahasan tersebut tetap seperti apa adanya, dan menyebut posisi China sejalan dengan pandangannya.

Siaran pers dari pemerintah China menyatakan Xi menegaskan bahwa China dan AS mungkin bersaing, tetapi harus lebih banyak bekerja sama di bidang AI. Menurut Xi, kedua pihak dapat melanjutkan dialog, bertukar pandangan soal risiko dan manfaat AI, serta bersama-sama mencegah penyalahgunaan teknologi tersebut.

"AI harus tetap berada di bawah kendali manusia. Pendekatan yang berpusat pada manusia harus dijunjung tinggi, dan AI harus dikembangkan untuk hal yang positif dan baik, sehingga AI dapat melayani kemajuan umat manusia," kata Xi dalam siaran pers tersebut.

Dari sisi AS, siaran pers China menyebut Trump mengatakan kedua negara harus mempertahankan dialog dan memperkuat kerja sama di bidang AI. Gedung Putih belum merilis pernyataan resminya sendiri mengenai hasil pertemuan ini.

Dialog AI Bergaya 'Telepon Merah' Era Perang Dingin

Referensi soal kerja sama AI muncul setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent membahas dialog AI antara AS dan China dengan Vice Premier China He Lifeng. Keduanya membicarakan pembukaan saluran komunikasi untuk menangani insiden terkait AI hingga tingkat keamanan nasional.

Saluran tersebut disamakan dengan 'telepon merah' era Perang Dingin, yakni jalur langsung antara AS dan Rusia yang dirancang mencegah eskalasi krisis nuklir. Jika terealisasi, mekanisme serupa untuk AI bisa menjadi kanal pertama yang menghubungkan kedua negara dalam menangani risiko teknologi ini.

Penolakan Pembatasan Pengembangan Model AI

Baik pemerintah AS maupun China menolak gagasan pembatasan atau pengereman pengembangan model AI. Sikap ini bertentangan dengan seruan yang disampaikan Altman dan CEO Anthropic Dario Amodei beberapa pekan sebelum pertemuan Trump dan Xi berlangsung.

Kedua tokoh industri tersebut sebelumnya mendesak adanya langkah pengamanan lebih ketat dalam pengembangan AI. Namun, posisi resmi kedua negara menunjukkan bahwa pendekatan mereka lebih mengarah pada dialog dan kerja sama ketimbang pembatasan.

Hasil pertemuan ini belum menghasilkan kesepakatan konkret soal regulasi AI lintas negara. Namun, pembukaan saluran dialog dan keterlibatan langsung para CEO perusahaan teknologi terbesar dunia menandakan AI kini menjadi agenda diplomasi utama antara dua kekuatan ekonomi terbesar di dunia.

Reporter: Saiful
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top