SULAWESI BARAT — Proses produksi massal chip AI5 Tesla dipastikan akan berlangsung di fasilitas Samsung yang berlokasi di Taylor, Texas, Amerika Serikat. Kepastian ini sekaligus mengakhiri spekulasi sebelumnya yang menyebutkan bahwa chip tersebut akan menggunakan teknologi fabrikasi 3 nm.
Dalam industri semikonduktor, tape-out merupakan tahap akhir penyelesaian desain sebelum sebuah chip benar-benar diproduksi. Setelah desain sirkuit selesai, pabrikan seperti Samsung akan menerjemahkannya ke dalam cetak biru manufaktur yang siap difabrikasi. Samsung secara resmi mengonfirmasi bahwa proses ini telah dirampungkan untuk AI5.
CEO Tesla Elon Musk sebelumnya telah mengumumkan melalui platform X pada pertengahan April bahwa desain AI5 telah selesai. Konfirmasi dari Samsung ini menjadi langkah kunci berikutnya dalam realisasi chip tersebut.
Samsung mengungkapkan bahwa AI5 akan diproduksi menggunakan proses manufaktur SF2T berteknologi 2 nm. Teknologi ini menjanjikan efisiensi daya dan performa komputasi yang jauh lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya, yang sangat krusial untuk memproses data dalam jumlah besar dari sistem otonom.
Produksi awal AI5 diperkirakan baru bisa dimulai pada akhir 2026. Namun, kapasitas produksi massal diproyeksikan baru akan tercapai paling cepat pada pertengahan 2027. Fasilitas di Texas ini juga disiapkan sebagai basis produksi bagi pengembangan chip AI6 generasi berikutnya.
Bagi Tesla, chip AI bukan sekadar komponen pelengkap. Chip ini berfungsi sebagai otak pemrosesan utama untuk semua fitur Advanced Driver-Assistance Systems (ADAS) dan Full Self-Driving (FSD). Selama ini, Tesla kerap mendapat sorotan terkait kompatibilitas perangkat keras lama terhadap pembaruan sistem FSD terbaru. Kehadiran AI5 dinilai sebagai upaya strategis untuk menghadirkan platform komputasi yang lebih tangguh dan siap menghadapi kebutuhan teknologi otonom di masa depan.
Selain meningkatkan kemampuan komputasi kendaraan, Tesla juga memperkuat rantai pasok semikonduktornya. Perusahaan menjalin kerja sama dengan dua raksasa chip dunia, Samsung dan TSMC. Langkah ini diambil untuk menjaga kelangsungan produksi kendaraan di tengah dinamika geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Taiwan, dan China.