Strategi AI Microsoft Dikritik Gagal Beri Nilai Tambah, Windows dan Office Terabaikan

Penulis: Sutomo  •  Sabtu, 20 Juni 2026 | 23:23:31 WIB
CEO Microsoft Satya Nadella menggeser fokus perusahaan dari software tradisional ke transformasi AI sejak 2019.

SULAWESI BARAT — Microsoft saat ini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, Windows dan Office masih menjadi tulang punggung pendapatan perusahaan dengan kapitalisasi pasar mencapai 2,82 triliun dolar AS. Di sisi lain, CEO Satya Nadella memilih untuk menggeser fokus utama perusahaan dari visi "pabrik software" yang diwariskan pendiri Bill Gates menuju keamanan, kualitas, dan transformasi AI.

"Ide itu telah memandu kami selama puluhan tahun. Tapi hari ini, itu tidak lagi cukup," ujar Nadella, mengindikasikan perubahan haluan besar-besaran yang dimulai sejak investasi pertama Microsoft di OpenAI pada 2019 silam.

Keputusan itu sendiri tidak mulus. Bill Gates, yang kini lebih fokus pada kegiatan filantropi, awalnya menentang investasi tersebut karena struktur nirlaba OpenAI. "Ya, kamu akan membakar satu miliar dolar ini," peringatan Gates kepada Nadella, seperti diungkapkan dalam sebuah laporan.

Windows 11 Gagal Menarik Pengguna, Banyak yang Bertahan di Windows 10

Dampak nyata dari pergeseran prioritas ini mulai terlihat di lini sistem operasi. Windows 11, yang dirilis sebagai penerus Windows 10, menuai kritik karena persyaratan hardware yang ketat, elemen desain yang dianggap kurang matang, dan integrasi AI Copilot yang dirasa memaksa.

Akibatnya, adopsi Windows 11 berjalan lambat. Sebuah survei dari HP pada September 2025 menunjukkan bahwa 3 dari 10 PC HP masih menjalankan Windows 10, meskipun Microsoft secara resmi menghentikan dukungan pada 14 Oktober 2025. Angka ini sebenarnya sudah membaik dari awal tahun, di mana HP dan Dell melaporkan hingga 50% PC mereka masih menggunakan OS lawas tersebut.

Banyak pengguna memilih menunda upgrade ke Windows 11 hingga dukungan keamanan berbayar (ESU) benar-benar berakhir. Kelompok seperti The Restart Project bahkan menciptakan toolkit "End of 10" untuk membantu pengguna yang tidak bisa upgrade, dan mengecam kebijakan Microsoft sebagai "programmed obsolescence" yang memaksa jutaan PC yang masih berfungsi untuk pensiun dini.

Kritik ini membuka celah bagi sistem operasi alternatif. Linux, misalnya, mulai menunjukkan peningkatan traksi berkat insentif seperti bebas iklan dan telemetri. "Beberapa anggota komunitas Windows Central kami juga menyuarakan sentimen yang sama," tulis laporan tersebut.

Microsoft Berjanji Perbaiki Windows, Tapi Siapkan Era AI Baru

Menyadari sentimen negatif, Microsoft pada awal 2025 berjanji akan memperbaiki pengalaman pengguna Windows 11. Inisiatif internal bernama Windows K2 diluncurkan untuk mengatasi masalah utama, termasuk mengurangi frekuensi kemunculan Copilot dan integrasi AI lainnya di seluruh sistem.

Perusahaan juga menghidupkan kembali acara Windows Insider untuk menjembatani kesenjangan dengan pengguna. Namun, di saat yang sama, Microsoft berencana mengubah Windows menjadi "agentic AI operating system" — sistem operasi yang akan dikirimkan dengan fitur ruang kerja agentik bawaan, lengkap dengan sesi aman untuk agen AI.

Bulan lalu, Yusuf Mehdi, kepala pemasaran produk AI dan Copilot Microsoft, beralih ke peran baru yang berfokus pada "reimagining Windows for the agentic era" sebelum akhirnya meninggalkan perusahaan. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa transformasi Windows menuju OS berbasis agen AI sudah berjalan dan bisa terjadi lebih cepat dari dugaan.

Office Kehilangan Teams, Copilot Gagal Jadi Pemanis

Nasib serupa menimpa Office. Setelah kehilangan Teams akibat tekanan regulasi antimonopoli di Eropa, Microsoft berharap Copilot bisa menjadi pemanis untuk mempertahankan pengguna. Namun, strategi AI yang dijalankan dinilai tidak memiliki "unique selling point" yang jelas, membuat masa depan lini produk Office dan Windows justru semakin tidak pasti.

Pertanyaan besarnya kini: akankah pengguna setia Windows dan Office bertahan, atau justru mulai melirik alternatif yang lebih stabil dan tidak terlalu ambisius dalam urusan AI?

Reporter: Sutomo
Sumber: windowscentral.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top