Tato di Pergelangan Tangan Bisa Ganggu Akurasi Sensor Detak Jantung Smartwatch, Ini Kata Studi

Penulis: Sutomo  •  Sabtu, 20 Juni 2026 | 08:13:01 WIB
Tato di pergelangan tangan dapat mengurangi akurasi sensor detak jantung pada smartwatch.

SULAWESI BARAT — Masalah kompatibilitas antara smartwatch dan kulit bertato bukanlah isu baru. Selama bertahun-tahun, forum diskusi dan halaman dukungan produsen dipenuhi keluhan pengguna yang kecewa setelah perangkat mahal mereka tidak berfungsi optimal. Inti masalahnya terletak pada teknologi sensor yang digunakan.

Mengapa Tato Mengganggu Sensor?

Mayoritas smartwatch dan fitness tracker menggunakan metode bernama photoplethysmography (PPG) untuk mengukur detak jantung. Teknologi ini bekerja dengan memancarkan cahaya hijau dari bagian bawah perangkat ke kulit. Cahaya yang dipantulkan kembali oleh aliran darah di pembuluh kemudian dibaca sensor untuk menghitung detak jantung.

Masalah muncul ketika cahaya ini harus menembus tinta tato. Pigmen pada tato, terutama tinta berwarna gelap dan pekat, menyerap atau menghalangi cahaya tersebut. Akibatnya, sensor tidak mendapatkan pantulan yang cukup untuk membaca detak jantung secara akurat. Dalam kasus yang lebih parah, sensor deteksi pergelangan tangan—yang juga menggunakan cahaya—gagal mendeteksi bahwa perangkat sedang dikenakan. Pengguna pun harus berulang kali membuka kunci perangkat setiap kali ingin menggunakannya.

Garmin, dalam halaman dukungan resminya, secara gamblang menyatakan, "Tato (tinta, pola, saturasi) dapat menghalangi cahaya sensor detak jantung, menyebabkan pembacaan yang tidak akurat atau hilang." Apple pun telah mengeluarkan peringatan serupa sejak perilisan Apple Watch generasi pertama.

Studi 2025: Gangguan Bergantung pada Aktivitas

Sebuah studi yang dipublikasikan pada tahun 2025 mencoba mengukur secara kuantitatif seberapa besar dampak tato terhadap akurasi sensor. Peneliti menggunakan Polar Verity Sense yang dipasang di lengan peserta, dengan satu sensor di area bertato dan satu lagi di area tanpa tato di lengan yang sama. Sebagai tolok ukur, mereka menggunakan Polar H10, sabuk dada yang dikenal memiliki akurasi lebih tinggi karena mengukur detak jantung langsung dari sinyal listrik jantung.

Hasilnya menarik. Kehadiran tato memang mempengaruhi pembacaan detak jantung, tetapi pengaruhnya tidak konstan. "Dampak terbesar diamati saat peserta dalam keadaan istirahat, dan variasinya menurun seiring meningkatnya intensitas latihan," tulis para peneliti. Bahkan dalam beberapa kasus, "keberadaan tato di lengan sama sekali tidak mempengaruhi validitas pengukuran detak jantung." Hal ini menunjukkan bahwa variabel seperti warna tinta, saturasi, dan kedalaman tato memegang peranan penting.

Solusi Sementara yang Tersedia

Belum ada solusi permanen dari pabrikan selain menghindari area bertato. Namun, pengguna telah menemukan beberapa akal-akalan. Opsi paling sederhana adalah memindahkan posisi smartwatch ke sisi dalam pergelangan tangan yang mungkin tidak bertato, atau beralih ke tangan satunya. Meski terasa janggal bagi yang sudah terbiasa, ini adalah solusi paling mudah.

Untuk pengguna yang mengutamakan akurasi detak jantung, sabuk dada (chest strap) seperti Polar H10 adalah pilihan paling andal, asalkan tidak ada tato di area dada. Beberapa pengguna juga melaporkan keberhasilan dengan menempelkan stiker botol epoksi atau selotip bening di atas sensor perangkat, meskipun cara ini tidak memiliki dasar ilmiah yang jelas.

Secara anekdotal, Google Pixel Watch 4 disebut-sebut lebih mampu menangani kulit bertato dibanding pendahulunya. Samsung juga sempat dikabarkan merilis pembaruan untuk mengatasi masalah ini, namun keluhan dari pengguna Galaxy Watch masih terus bermunculan, menandakan masalah belum sepenuhnya terselesaikan.

Kesimpulan untuk Pembeli

Masalah tato dan sensor smartwatch pada akhirnya kembali pada variabel individual. Tidak ada jaminan perangkat tertentu akan berfungsi sempurna di kulit bertato. Bagi calon pembeli yang memiliki tato di pergelangan tangan, langkah paling bijak adalah mencoba langsung perangkat di toko atau memastikan kebijakan retur penjual memungkinkan pengembalian jika perangkat tidak berfungsi seperti yang diharapkan. Selama teknologi sensor masih bergantung pada cahaya, masalah ini kemungkinan akan terus ada hingga produsen mengembangkan metode pengukuran alternatif yang lebih inklusif terhadap variasi kulit manusia.

Reporter: Sutomo
Sumber: engadget.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top