SIMALUNGUN — Rakornas FORKAPPSI 2026 dibuka langsung oleh Gubernur Sumatera Utara, Bobby Afif Nasution. Dalam sambutannya, ia mendorong setiap provinsi untuk saling bertukar pikiran dan menjalin kerja sama guna menunjang keberhasilan program masing-masing daerah.
“Tiap daerah memiliki keberagaman produk dan potensi yang sangat bagus dijadikan kolaborasi, khususnya dalam bidang pangan,” ujar Bobby.
Salah satu materi kunci dalam rakornas ini disampaikan oleh Direktur Eksekutif Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara. Kepala Sub Bidang Promosi dan Informasi Daerah Badan Penghubung Sulawesi Barat, Nurul Farasmy, mengungkapkan bahwa penanganan inflasi menjadi isu krusial yang dibahas.
“Jika dibiarkan, nilai uang akan merosot sehingga kebutuhan pokok menjadi terlalu mahal untuk dijangkau,” kata Nurul menirukan paparan dari narasumber.
Ia menambahkan, pencegahan inflasi dinilai vital untuk menjaga daya beli masyarakat, mempertahankan stabilitas ekonomi, dan mencegah peningkatan angka kemiskinan.
Nurul menjelaskan, materi yang dibahas dalam rakornas tersebut sejalan dengan program kerja Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka, yang tertuang dalam Panca Daya. Fokusnya pada aspek mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, serta pembangunan sumber daya manusia yang unggul dan berkarakter.
Keikutsertaan Badan Penghubung Sulbar dalam forum ini merupakan bagian dari upaya memperkuat jejaring kerja sama antarpemerintah daerah. Selain itu, forum ini juga dimanfaatkan untuk memperluas akses informasi dan peluang kolaborasi yang dapat mendukung pembangunan daerah.
Gubernur Sumut Bobby Nasution menyoroti potensi kolaborasi antarwilayah, mulai dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Bali, hingga Papua. Menurutnya, keberagaman produk daerah bisa menjadi modal utama dalam menjaga stabilitas pasokan pangan nasional.
Rakornas FORKAPPSI 2026 di Parapat menjadi ajang bagi setiap provinsi untuk menyusun strategi bersama dalam menghadapi tekanan inflasi, khususnya yang dipicu oleh fluktuasi harga bahan pokok.