SULAWESI BARAT — Fenomena Super El Nino memangkas produksi nikel di sejumlah smelter dan menurunkan daya mampu listrik PLTA di Sulawesi. PT PLN (Persero) mencatat daya mampu pembangkit hidro di Sulawesi Bagian Selatan turun dari 850 MW menjadi 250 MW. Dampaknya merembet ke pasokan listrik warga dan operasional industri pengolahan nikel.
Paragraf pembuka: Musim kering panjang yang dipicu Super El Nino membuat pasokan air di sejumlah wilayah Indonesia menyusut. Bagi sektor energi, kondisi ini bukan sekadar soal cuaca. Air adalah bahan baku vital untuk mendinginkan tungku smelter, menggerakkan turbin PLTA, hingga menunjang distribusi bahan bakar minyak.
Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) Arif Perdana Kusumah mengaku sudah menerima laporan penurunan produksi di beberapa lokasi smelter. Kekurangan pasokan air disebut mulai terasa di sejumlah proyek, terutama yang beroperasi di Sulawesi.
Arif menyebut dampak El Nino di tiap smelter berbeda-beda, tergantung lokasi, kebutuhan air, dan ketersediaan sumber air setempat. Karena itu, ia belum bisa memastikan berapa jumlah smelter yang terdampak.
"(Pengaruhnya) berupa penurunan produksi (nikel) akibat El Nino tahun ini. Beberapa tempat sudah mulai merasakan dampak kekurangan pasokan air, akibat periode musim kering yang panjang ini," kata Arif.
Persebaran smelter nikel Indonesia memang terkonsentrasi di Sulawesi dan Maluku Utara. Menurut catatan FINI, wilayah Sulawesi menjadi yang paling parah terdampak.
Salah satu kawasan industri yang sudah memangkas produksi adalah Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Pemangkasan dilakukan karena pasokan air untuk pendingin dan pelindung alat berkurang.
Laporan Bloomberg menyebut pengumuman pemangkasan disampaikan kepada perusahaan-perusahaan di kawasan IMIP pekan lalu. Pemangkasan menyasar produksi nickel pig iron (NPI), bahan baku baja anti karat. Volume yang terdampak bisa mencapai hampir sepertiga, atau sekitar 100 ribu ton NPI.
Wood Mackenzie Ltd. mencatat kapasitas produksi IMIP mencapai 350 ribu ton per bulan dan 4,2 juta ton per tahun. Artinya, pemangkasan ini memangkas signifikan output salah satu pusat pengolahan nikel terbesar di dunia.
Arif menjelaskan air berperan krusial di dua jalur pengolahan nikel. Pada jalur pirometalurgi, air dipakai konstan untuk mendinginkan dinding furnace agar tidak retak atau meledak. Air bertekanan tinggi juga menyemprot terak cair hasil peleburan agar membeku dan pecah menjadi butiran kecil.
Pada jalur hidrometalurgi atau smelter berteknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL), peran air lebih besar lagi. Air menjadi media utama seluruh reaksi kimia, proses pencucian, pemisahan logam, hingga pengenceran.
Gangguan tidak berhenti di pertambangan. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan Sulawesi Selatan mengalami masalah pasokan listrik akibat surutnya air untuk PLTA.
"Di Sulsel itu kan kami memang memakai beberapa PLTA, akibat El Nino maka daya kekuatan air berkurang. Kami sudah mencari solusi untuk mengganti (pasokan) listrik sementara dengan (memanfaatkan) pembangkit lain," kata Bahlil di Kompleks DPR RI.
Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo menyebut daya mampu agregat pembangkit hidro di Sulawesi Bagian Selatan turun dari 850 megawatt (MW) menjadi hanya 250 MW. Penurunan terjadi pada PLTA Poso, Bakaru, Malea, serta sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM).
PLN menyatakan tengah menyiapkan pembangkit pengganti untuk menutup defisit pasokan. Langkah ini penting agar pemadaman bergilir tidak meluas ke pelanggan rumah tangga dan industri di wilayah tersebut.
Bagi warga Sulawesi, risiko paling langsung adalah gangguan pasokan listrik saat beban puncak. Sementara bagi industri nikel, pemangkasan produksi berarti berkurangnya pasokan NPI ke pasar global dan potensi tertahannya target penerimaan negara dari sektor hilirisasi.
Smelter yang berhenti sementara juga berdampak ke tenaga kerja dan rantai pasok lokal, mulai dari pemasok bahan bakar hingga jasa logistik di sekitar kawasan industri.
Penutup: Super El Nino tahun ini menguji ketahanan infrastruktur energi Indonesia dari hulu ke hilir. Selama curah hujan belum normal, tekanan pada smelter dan pembangkit hidro di Sulawesi diperkirakan masih berlanjut.