MAMUJU — Polda Sulawesi Barat menghadirkan Sofyan Tsauri dan Suryadi Mas'ud, dua mantan narapidana terorisme yang kini aktif menyuarakan kontra-radikalisasi, sebagai pemateri utama Binrohtal di Aula Marannu Mapolda Sulbar. Kegiatan yang digelar Kamis (24/9/26) itu dihadiri Kapolda Sulbar Irjen Pol Adi Deriyan Jayamarta bersama para Pejabat Utama dan seluruh personel Muslim Polda Sulbar.
Pemilihan eks napiter sebagai pemateri menjadi langkah berbeda dari agenda pembinaan rohani rutin. Keduanya diminta membedah langsung faktor penyebab seseorang terpapar paham radikal, bukan sekadar menyampaikan materi teoritis kepada personel kepolisian.
Sofyan Tsauri dan Suryadi Mas'ud membagikan kisah perjalanan hidup mereka selama terlibat dalam jaringan ekstremisme. Keduanya memaparkan kronologi bagaimana doktrin radikal masuk dan mengubah cara pandang mereka sebelum akhirnya memilih kembali setia kepada NKRI.
Materi yang disampaikan menyasar aspek praktis: bagaimana personel kepolisian dapat mendeteksi tanda-tanda awal infiltrasi paham radikal di tengah masyarakat. Strategi kontra-radikalisasi dibahas secara gamblang, mulai dari pola perekrutan hingga cara kelompok ekstremis menyasar target baru.
Pendekatan testimoni dinilai lebih efektif menyentuh personel karena berasal dari pengalaman langsung, bukan sekadar pemaparan konsep intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET).
Dalam sambutannya, Kapolda Sulbar Irjen Pol Adi Deriyan Jayamarta menyampaikan harapan agar kegiatan tersebut membentuk karakter personel Polri yang lebih baik, berintegritas, dan kokoh secara spiritual. Ia menekankan kunci menjadi pribadi mulia adalah menjauhkan diri dari sifat sombong.
"Pesan saya, jangan pernah menjadi orang yang sombong. Hilangkan sifat buruk itu sekecil apa pun dari diri kita. Biarlah orang lain merendahkan kita, karena membumi itu jauh lebih baik dan menyelamatkan," tutur Kapolda.
Jenderal bintang dua itu juga mengajak seluruh jajarannya merefleksikan hakikat kehidupan dan kematian. Ia mengingatkan bahwa jauh sebelum manusia diciptakan, telah ada ikatan janji suci dengan Allah Subuhanahu Wataalah, di mana segala jalan hidup manusia telah diatur sesuai kehendak-Nya.
"Kematian itu adalah sebuah kepastian. Maka manfaatkan sisa umur yang ada di dunia ini untuk konsisten melakukan kebaikan. Setiap ucapan yang keluar dari mulut mencerminkan kebiasaan dan isi hati kita. Di alam kubur nanti, seluruh perbuatan kita di dunia akan menentukan, apakah kita akan menerima kenikmatan atau justru siksaan," tegas Kapolda.
Kapolda juga mengajak personel merefleksikan kecintaan kepada Rasulullah Sallalahu Alaihi Wasallam untuk mendapatkan syafaat di hari akhir. Di akhir arahannya, ia memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh anggotanya.
"Saya melihat rekan-rekan sekalian adalah polisi yang baik dan senantiasa mampu menunjukkan perilaku yang terpuji. Tunjukkan jati diri kalian sebagai muslim yang baik, karena pada umumnya, masyarakat menilai keindahan suatu agama dari bagaimana sikap dan perilaku para penganutnya," tutup Kapolda.
Agenda Binrohtal Polda Sulbar kali ini menempatkan pembinaan ideologi dan spiritual sebagai satu paket. Personel tidak hanya dibekali pemahaman agama, tetapi juga kemampuan membaca gejala radikalisasi di lingkungan sekitar sebelum berkembang menjadi ancaman nyata.