SULAWESI BARAT — Xiaomi resmi meluncurkan Mijia Electric Shaver melalui platform Youpin. Alat cukur ini langsung menarik perhatian karena membawa teknologi yang biasa ditemukan di produk seharga jutaan rupiah, namun dengan harga promosi hanya 199,75 yuan (sekitar Rp 450 ribu). Saya menggunakan alat ini selama satu minggu penuh untuk mencukur setiap dua hari sekali, mencoba mode basah dan kering, serta menguji klaim sensor pintarnya di kehidupan nyata.
Mijia Electric Shaver menggunakan sistem tiga kepala cincin ganda dengan foil bergelombang. Teknologi Metal Injection Molding (MIM) diklaim membantu mengarahkan rambut ke area pemotongan, mengurangi risiko rambut tertarik. Dalam pemakaian, saya memang tidak merasakan tarikan berarti seperti pada alat cukur putar murah di bawah Rp 200 ribu. Pisau baja tahan karat cekung bekerja cukup rapat ke kulit, meski di area leher yang melengkung tetap butuh beberapa kali usapan.
Kepala pencukur mengambang 360 derajat. Fleksibilitasnya terasa saat melewati garis rahang dan dagu, tapi tidak semulus sistem pengikut kontur pada Braun Series 5 yang harganya tiga kali lipat. Lapisan material bertekstur mikro pada kepala cukup membantu mengurangi gesekan, terutama saat saya mencukur dalam keadaan basah tanpa busa.
Xiaomi menyematkan chip internal yang memonitor hambatan mata pisau 100 kali setiap detik. Jika mendeteksi jenggot lebih tebal, motor otomatis meningkatkan tenaga. Dalam pengujian, fitur ini bekerja — saat melewati area kumis yang lebih kasar, suara motor terdengar naik dan potongan terasa lebih cepat. Namun, pada jenggot tipis di pipi, tidak ada perbedaan signifikan yang terasa. Motor 5 juta gerakan per menit sebenarnya sudah cukup bertenaga untuk mayoritas tipe rambut wajah Indonesia yang cenderung sedang.
Yang perlu dicatat: sensor ini tidak bisa menggantikan teknik mencukur yang baik. Jika Anda menekan terlalu keras, alat tetap bisa menyebabkan iritasi. Saya sarankan tetap menggunakan gerakan melingkar ringan seperti pada alat cukur putar pada umumnya.
Klaim baterai 90 hari dihitung berdasarkan penggunaan 1 menit per hari. Dalam pemakaian nyata saya yang rata-rata 3-4 menit per sesi (setiap dua hari), alat ini bertahan sekitar 22 hari sebelum indikator LED menunjukkan daya rendah. Pengisian penuh via USB-C memakan waktu sekitar 2 jam — standar di kelasnya. Fitur pass-through charging sangat berguna: Anda bisa mencukur sambil dicharge kalau lupa mengisi daya semalaman.
Sertifikasi IPX7 berarti alat ini bisa dicuci di bawah air mengalir. Saya mencucinya setiap selesai pemakaian, dan mekanisme buka kepala dengan satu tombol memudahkan pembuangan sisa rambut. Namun, tombol travel lock agak kaku saat pertama kali diaktifkan, butuh beberapa kali percobaan untuk hafal posisinya.
Xiaomi Mijia Electric Shaver adalah pilihan solid untuk pengguna yang beralih dari alat cukur manual atau alat cukur murah pertama kali. Dengan harga Rp 450-560 ribuan, Anda mendapatkan sensor pintar, motor kencang, dan ketahanan air yang memadai. Namun, jika Anda memiliki kulit sangat sensitif atau jenggot tebal dan kasar, saya sarankan menabung untuk Philips Series 5000 atau Braun Series 3 yang memiliki sistem pengikut kontur lebih baik. Alat ini paling cocok untuk mahasiswa, pekerja kantoran, atau siapa pun yang butuh alat cukur praktis dengan budget terbatas — asalkan siap dengan hasil cukur yang "cukup rapat", bukan "baret sempurna".