MAMUJU — Kepala DKPPKB Sulbar, dr. Nursyamsi Rahim, menyampaikan penguatan kolaborasi tersebut saat menjadi narasumber dalam kegiatan Biddokkes Polda Sulbar. Ia menekankan bahwa penanggulangan TBC tidak bisa hanya bertumpu pada sektor kesehatan. Dibutuhkan gerakan bersama yang melibatkan pemerintah daerah, TNI-Polri, pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader, tokoh agama, tokoh adat, dunia usaha, serta keluarga dan masyarakat.
Melalui Gerakan Aktif Masyarakat dan Tenaga Kesehatan Terpadu Atasi Tuberkulosis (GARATTA TBC), DKPPKB Sulbar mendorong pendekatan terpadu. Cakupannya meliputi edukasi kesehatan, penemuan kasus secara aktif, investigasi kontak, pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) bagi kelompok yang memenuhi syarat, hingga pendampingan pasien sampai tuntas pengobatan.
Baru 56 Persen Kasus TBC Sulbar yang Terdeteksi
Data program TBC Sulawesi Barat per 5 Oktober 2026 menunjukkan estimasi kasus di daerah ini mencapai 5.002 kasus. Jumlah yang berhasil ditemukan baru 2.784 kasus, atau sekitar 56 persen dari total estimasi.
Dari 3.993 pasien yang tercatat mendapatkan pengobatan, sebanyak 3.275 pasien berhasil menyelesaikan pengobatan. Tingkat keberhasilannya mencapai 82 persen.
Capaian itu menunjukkan upaya penemuan kasus dan keberhasilan pengobatan masih perlu ditingkatkan. DKPPKB Sulbar menilai dukungan lintas sektor jadi langkah penting untuk menjangkau masyarakat yang belum terdeteksi dan memperluas pemeriksaan kontak erat.
Peran Polisi: Edukasi Warga hingga Kurangi Stigma Pasien
Jajaran kepolisian diharapkan berkontribusi melalui edukasi kesehatan dan penguatan koordinasi di tengah masyarakat. Polisi juga didorong membantu mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap pasien TBC.
Dalam pemaparannya, Nursyamsi menegaskan penanggulangan TBC membutuhkan kerja bersama. "Penanggulangan TBC membutuhkan kerja bersama. Kita tidak hanya berupaya menemukan kasus, tetapi juga memastikan pasien mendapatkan pengobatan, memperoleh dukungan, dan menyelesaikan pengobatannya hingga tuntas," ujarnya.
Desa Siaga TBC Libatkan Karang Taruna hingga Posyandu
DKPPKB Sulbar mengembangkan pendekatan Desa Siaga TBC sebagai strategi pemberdayaan masyarakat berbasis desa. Unsur yang dilibatkan meliputi pemerintah desa, karang taruna, kader kesehatan, PKK, Posyandu, tokoh agama, tokoh adat, keluarga, dan tenaga kesehatan.
Lewat pendekatan ini, warga didorong lebih aktif mengenali gejala penyakit dan mengajak tetangga yang bergejala untuk segera memeriksakan diri. Masyarakat juga diajak mendukung investigasi kontak serta mendampingi pasien selama menjalani pengobatan.
Kearifan Lokal Jadi Perekat Gerakan Warga
Penguatan GARATTA TBC mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal Sulawesi Barat. Nilai Sipamandar mencerminkan persatuan dan kebersamaan, Siwaliparri sebagai semangat keteladanan dan gotong royong, serta Siasayangngi yang menekankan kepedulian dan sikap saling menghargai.
Pendekatan berbasis kearifan lokal itu diharapkan membangun kesadaran bahwa penanggulangan TBC bukan semata tanggung jawab tenaga kesehatan. Tujuannya sekaligus menciptakan lingkungan sosial yang lebih peduli agar pasien TBC tidak lagi menghadapi stigma maupun diskriminasi.
Penguatan GARATTA TBC bersama Polda Sulbar menjadi bagian dukungan terhadap visi pembangunan Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat di bawah kepemimpinan Gubernur Suhardi Duka, yakni Sulawesi Barat Maju dan Sejahtera. Fokusnya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat serta mewujudkan sumber daya manusia yang unggul dan berkarakter.
DKPPKB Sulbar berharap kolaborasi yang terbangun terus diperluas hingga tingkat desa dan kelurahan. Dengan begitu, percepatan eliminasi TBC tidak hanya menjadi agenda sektor kesehatan, tetapi berkembang menjadi gerakan masyarakat yang berkelanjutan.