SULAWESI BARAT — Telkomsel mengintegrasikan kecerdasan buatan ke dalam Autonomous Network untuk mengelola jaringan 5G secara lebih adaptif, mulai dari prediksi lonjakan trafik hingga deteksi gangguan real-time. Pada periode Ramadan dan Idulfitri 2026, trafik data operator ini menembus puncak 70,4 petabyte atau naik 13,4% dari hari normal. Pendekatan berbasis AI dan Machine Learning ini jadi kunci menjaga stabilitas koneksi saat beban jaringan melonjak.
Operator telekomunikasi Telkomsel kini menjalankan jaringan 5G-nya dengan lapisan kecerdasan buatan yang bekerja di belakang layar. Teknologi AI dan Machine Learning dipakai untuk membaca pola trafik, memprediksi titik gangguan, hingga mengalokasikan sumber daya jaringan secara otomatis tanpa harus menunggu intervensi manusia di setiap prosesnya.
Pendekatan ini bukan soal menaikkan kecepatan unduh semata. Fokusnya adalah membuat jaringan tetap stabil ketika jumlah pengguna dan konsumsi data berubah cepat dalam hitungan jam.
Lonjakan Trafik Jadi Pemicu Utama
Salah satu tantangan terbesar jaringan seluler adalah sifat trafik yang sangat dinamis. Konsumsi data bisa meledak di waktu dan lokasi tertentu, misalnya saat acara besar, musim mudik, atau ketika masyarakat berkumpul di kawasan wisata.
Pengalaman Telkomsel selama Ramadan dan Idulfitri 2026 memperlihatkan pola tersebut. Pada periode RAFI 2026, trafik data mencapai puncak 70,4 petabyte, naik 13,4% dibandingkan hari normal.
Telkomsel memakai analitik dan pemodelan Machine Learning untuk menentukan titik prioritas penguatan jaringan, lalu memperkuatnya lewat mekanisme Autonomous Network. Sejumlah kota bahkan mencatat pertumbuhan trafik lebih dari 100% dibandingkan periode sebelumnya.
Deteksi Gangguan Lebih Cepat dan Tepat
Jaringan telekomunikasi terdiri dari banyak elemen yang harus bekerja bersamaan. Semakin cepat gangguan ditemukan dan ditangani, semakin kecil dampaknya ke pelanggan.
Telkomsel menggunakan AI dalam Autonomous Network untuk memprediksi sekaligus membantu memperbaiki potensi gangguan secara real-time. Teknologi ini membuat proses pengawasan dan penanganan tidak sepenuhnya bergantung pada intervensi manusia.
Hasilnya terlihat pada periode RAFI 2026. Ketersediaan layanan di titik prioritas mencapai 99,7%, sementara 94,4% gangguan jaringan di titik tersebut berhasil diselesaikan tepat waktu.
Mengapa 5G Butuh Jaringan yang Adaptif
Keunggulan 5G tidak hanya soal kecepatan. Telkomsel menjelaskan teknologi ini menawarkan data rate lebih tinggi, latensi lebih rendah, serta kapasitas koneksi yang lebih besar dibandingkan 4G.
Semakin kompleks layanan yang berjalan di atas jaringan tersebut, semakin besar kebutuhan mengelolanya secara adaptif. AI membantu operator menganalisis kondisi lapangan berdasarkan jumlah pengguna, lokasi, dan aktivitas pelanggan, lalu mengoptimalkan sumber daya sesuai kebutuhan.
Dengan cara ini, AI tidak bekerja membuat sinyal 5G lebih cepat secara langsung, melainkan membantu jaringan memakai sumber daya yang tersedia secara lebih cerdas.
Tambahan Spektrum 100 MHz Perkuat Kapasitas
Telkomsel baru saja mendapatkan tambahan 100 MHz spektrum pada pita 700 MHz dan 2,6 GHz. Spektrum tersebut akan digunakan secara bertahap sesuai kebutuhan pasar, produktivitas spektrum, disiplin investasi, dan potensi imbal hasil.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkomsel Daru Mulyawan menyatakan tambahan spektrum itu akan memperkuat kapasitas dan kualitas jaringan sekaligus mendukung pengembangan 5G.
"Ke depan, tambahan 100 MHz spektrum akan semakin memperkuat kapasitas dan kualitas jaringan serta mendukung pengembangan 5G," kata Daru dalam Public Expose Live 2026, seperti dikutip detikINET.
Dengan kapasitas jaringan yang semakin besar, kebutuhan mengelolanya secara efisien ikut meningkat. AI menjadi salah satu teknologi yang membantu operator mengoptimalkan penggunaan kapasitas berdasarkan kondisi jaringan dan kebutuhan pelanggan.
Yang Dirasakan Pengguna 5G Telkomsel
Pelanggan mungkin tidak melihat AI bekerja secara langsung saat menggunakan 5G. Manfaatnya muncul dalam bentuk jaringan yang lebih stabil, gangguan yang ditangani lebih cepat, serta kemampuan jaringan menyesuaikan diri dengan perubahan trafik.
Telkomsel menyebut integrasi kapabilitas jaringan cerdas berbasis AI ditujukan untuk meningkatkan keandalan layanan dan pengalaman pelanggan. Bagi pasar Indonesia yang terus mencatat pertumbuhan konsumsi data, kemampuan mengelola jaringan secara otomatis menjadi pembeda dalam menjaga kualitas layanan di tengah lonjakan trafik yang makin sulit diprediksi secara manual.